Salah, Itu Bukan Rindu

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam namun Gita belum mengantuk. Dia memilih melihat keluar jendela dari kamar hotel di lantai sepuluh. Gemerlap lampu kota di malam hari membuatnya betah berlama-lama memandang keindahannya meski tubuhnya terasa lelah setelah seharian mengikuti pelatihan. 


Sudah tiga hari Gita bermalam di kota ini. Kota tempat tinggal Fahri, sang mantan kekasih yang masih saja melekat di hati meski tahun-tahun telah berganti. Bukan karena tak laku, wajah manis Gita banyak menarik perhatian para lelaki tapi Gita tak sedikitpun membuka hati. Dia masih saja merasa bisa kembali merajut kasih bersama Fahri meski kesalahpahaman diantara keduanya belum diluruskan.


Dua tahun lalu, di malam minggu selepas magrib. Tanpa memberi kabar sebelumnya, Fahri datang ke rumah Gita. Bermaksud memberi kejutan kepada sang kekasih setelah menempuh perjalanan selama satu jam dengan pesawat terbang, bukannya bahagia, Fahri pulang dengan rasa kecewa. Gita tengah kedatangan tamu lain yang ternyata ingin melamarnya. Merasa baru saja tiba dan tak nyaman untuk segera pamit, Fahri hanya mampu terdiam saat orang tua Gita di ruang sebelah menyatakan betapa bahagia mendengar lamaran dari tamu tersebut dan berjanji akan memberi jawaban segera setelah membahasnya bersama Gita. Tak sanggup mendengar lebih lama, Fahri pun pamit tanpa mau mendengarkan penjelasan Gita. Fahri langsung pulang, kembali ke kotanya.


Gita merasa sedih dan kecewa karena nomor Fahri tak bisa dihubungi, sudah jelas ia tak mau mendengar penjelasan dari Gita yang ternyata menolak lamaran itu. Terlebih, Gita yang akhirnya sakit tifus keesokan harinya tak mampu mendatangi Fahri ke kotanya. Gita akhirnya menyerah dengan keadaan. Lebih dari sebulan ia sakit dan merasa terlalu terlambat untuk mendatangi Fahri dan menjelaskan semuanya. 


Dua tahun memang bukan waktu yang sebentar tapi Gita punya niatan untuk mendatangi Fahri besok sepulang pelatihan. Tekadnya bulat. Tak peduli bagaimana hasilnya, dia hanya ingin Fahri tahu bahwa saat itu ia tak mendua, tetap Fahri lah satu-satunya lelaki di hatinya dan ia tetap setia meski hubungan mereka saat itu belum genap setahun lamanya. 


Selepas isya, setelah ia membersihkan diri di hotel, Gita menuju rumah Fahri. Rumah itu tampak sepi. Hanya ada mainan anak yang bertebaran di lantai teras rumah, sepeda mini dan gendongan yang tidak terlipat rapi di atas kursi santai. Sekali lagi, Gita meyakinkan diri untuk menekan bel rumah bercat biru muda itu. 


Setelah dua kali menekan bel, pintu rumah itu dibuka. Seorang perempuan muda yang tengah menggendong bayi berusia satu tahun menyapa Gita dengan ramah. "Iya, mencari siapa?"


Gita tertegun. Siapakah perempuan itu? Istri Fahri kah? Dan bayi itu, mungkin saja adalah buah cinta mereka. Pikiran Gita berkecamuk tapi dia tak boleh mundur. Dia sudah sampai di rumah itu, tugasnya hanya meluruskan kesalahpahaman masa lalu kemudian setelah itu dia akan segera pamit pulang. 


"Permisi, Mbak. Saya teman Fahri. Apa Fahri ada?" Kata Gita yang sedikit gugup. 


"Oh, mbak Gita ya?" Perempuan itu langsung bisa menebak. "Silakan duduk, Mbak. Sebentar ya." Perempuan itu meninggalkan Gita di ruang tamu dan bergegas masuk ke ruang tengah. Sekitar lima menit Gita menunggu. Akhirnya sang tuan rumah menemuinya lagi sambil menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna merah hati. 


"Ini dari mas Fahri. Silakan dibuka, Mbak." 


Gita semakin heran, mengapa Fahri tak mau menemuinya. Sebenci itukah dia pada Gita padahal Gita sudah senekat ini untuk datang menemuinya. Tak bisakah ia sekedar keluar menemui Gita beberapa detik saja dan menanyakan kabarnya? Pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan di pikiran Gita. Tapi percuma, faktanya Fahri tak ingin menemuinya. Kotak kecil itupun menciptakan tanda tanya. Mengapa memberi hadiah jika tak ingin bersua? 


Ragu, Gita menyentuh kotak itu. Perlahan ia membukanya. Sebuah kalung cantik dengan liontin permata berwarna ungu muda berada di dalamnya. 


"Akhirnya mbak Gita datang juga." Perempuan itu tersenyum tapi ia berurai air mata. "Kalung ini mas Fahri titipkan ke saya waktu dia masih di rumah sakit. Mas Fahri kecelakaan sepulang dari mengunjungi mbak Gita dua tahun lalu. Bis yang ditumpanginya masuk ke jurang. Dia terluka parah dan sempat sadar tiga hari setelahnya. Dia gak bisa menghubungi mbak Gita karena handphonenya hilang. Keesokan harinya, dia meninggalkan kami semua." Perempuan itu menangis pilu. 


Gita terkejut, tak siap dengan cerita yang baru didengarnya. Kotak hitam di tangannya jatuh, pandangannya gelap, dunianya serasa runtuh. Ia benar-benar kehilangan sosok Fahri yang dirindukannya selama dua tahun ini. Lalu ia tersadar, itu mungkin bukan rindu, tapi ego yang membelenggu. 


Bondowoso, 3 Januari 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga