Sayup - Sayup Rindu (Pentigraf)

Tenda jingga di pinggir jalan menuju arah kota Malang itu semakin ramai menjelang pukul sepuluh malam. Di dalamnya, para pemuda mengobrol santai sambil menyantap gorengan, berbagi rokok bersama teman atau hanya sekedar meneguk segelas Arabika. Sedangkan Ipung, dia asyik dengan pikirannya sendiri. Dua batang rokok belum mampu memberinya jawaban atas sikap Rinda yang tiba-tiba saja mengiriminya pesan setelah dua tahun mereka berpisah. Hanya kata, "Mas". Tapi mengapa baru sekarang pesan itu datang saat Ipung mulai membuka hati untuk perempuan lain. Mengapa tak sedari dulu saat Rinda memutuskan menerima perjodohan dari orang tuanya.


Rokok ketiga telah dinyalakan. Mata Ipung menengadah, memandangi setiap kepulan asap rokok yang menyembur dari mulutnya. Samar-samar, asap itu membentuk wajah manis Rinda yang dikenalnya dulu begitu teguh pendirian. Namun tak disangka dia menjadi luluh, menyerah untuk memperjuangkan cintanya bersama Ipung demi melunasi hutang kedua orang tuanya dengan menikahi anak seorang peternak ayam petelur yang sukses.


Sayup-sayup suara Rinda terdengar kembali di telinga Ipung. Mungkin Ipung rindu. Rindu suara tegas yang jarang sekali manja, suara penuh welas asih yang selalu perhatian padanya. Lalu suara itu menjelma menjadi nyata saat seseorang menyentuh bahu kiri Ipung dengan lembut, "Mas, tolong aku." Rinda datang dengan mata sembab dan luka memar di wajahnya bersama seorang bayi yang belum genap satu tahun menangis di gendongannya. 


Bondowoso, 29 Januari 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga