Memilih Bahagia (Bagian 5)
Acara pertunangan bagi sebagian besar orang dianggap lancar dan membahagiakan, tapi tidak bagi Erma. Dia semakin menunjukkan rasa tidak suka dengan mengunci diri di dalam kamar, menjauh dari semua orang. Dia tak mempedulikan bapak dan ibunya yang telah beberapa kali mengetuk pintu kamar agar Erma keluar bergabung dengan para saudara atau duduk menemui Hendra dan orang tuanya.
Sebelum memasuki kamar, Erma telah membawa cukup makanan, kue dan buah-buahan untuk bekal mengurung diri. Ia ingat pesan Uki untuk makan yang banyak agar tetap kuat menghadapi cerita baru dalam hidupnya.
Erma kembali mengingat perempuan yang tadi ia lihat di sebelah meja catering. Jelas dia adalah Nelly, mantan kekasih Hendra. Semua orang di desanya tahu bahwa mereka lama bersama dan entah mengapa hubungan itu berakhir begitu saja lalu Hendra memutuskan untuk melamar Erma dan semua terjadi dengan begitu tergesa-gesa. Padahal Nelly adalah seorang pebisnis kuliner yang sukses, cocok untuk seorang Hendra. Penampilannya yang cantik dan elegan tentu jauh dari Erma yang lebih banyak tampil asal-asalan. Nelly jugalah yang mengurus catering acara pertunangan tadi tapi bukankah sang pemilik catering tak wajib hadir di acara? Apakah mungkin Nelly berharap kembali bersama Hendra? Erma mulai menebak-nebak lalu ide cemerlang terlintas di benaknya.
___________________
Senin keesokan harinya, Erma memilih bolos kuliah. Ia mendatangi Nelly di rumahnya.
"Maaf ya, Mbak Nelly, saya jadi menganggu kesibukan mbak." Kata Erma memulai pembicaraan.
"Gak ganggu kok, Dek Erma. Apa ada yang bisa saya bantu?" Jawab Nelly ramah.
"Mbak, entah mbak tau atau gak, sebenarnya pertunangan saya dan mas Hendra itu hanyalah keinginan orang tua. Sedangkan saya dan mas Hendra gak ada perasaan suka. Saya tau hubungan mbak dan mas Hendra bertahun-tahun lamanya. Saya gak pingin jadi penghalang hubungan kalian berdua." Erma mulai menjelaskan maksud kedatangannya.
Nelly bingung, ia tak menyangka Erma akan membahas hal ini. Awalnya Nelly berpikir kedatangan Erma untuk bisnis catering di acaranya yang lain, tapi ternyata Erma membahas luka lama yang belum benar-benar sembuh di hati Nelly. Lalu ia pun merespon dengan senyum untuk menutupi rasa itu.
"Dek Erma, saya dan Hendra sudah selesai. Kemarin saya hadir di acara kalian karena saya menghormati Hendra sebagai teman lama, tak ada maksud lain. Semoga dek Erma bahagia bersama Hendra." Jawaban Nelly tak sesuai keinginan Erma.
Tak lama, Erma pun berpamitan. Ia merasa ada yang Nelly sembunyikan. Maka rencana baru untuk membuat Nelly dan Hendra kembali bersama harus segera dipikirkan. Dengan begitu, ia bisa segera lepas dari Hendra dan bisa kembali bersama Uki.
Nelly merasa tak nyaman. Maka ia menelpon Hendra dan bercerita tentang kedatangan Erma.
"Dra, Erma barusan ke rumahku. Dia pingin aku sama kamu balik lagi. Kenapa kamu nyuruh dia yang bicara? Kenapa bukan kamu sendiri? Kamu nyesel ninggalin aku? Kamu baru sadar setelah liat aku kemarin?" Isak tangis Nelly tak terbendung.
"Loh, wait. Erma datangi kamu? Jangan salah paham ya, aku gak tau kalau dia ke sana. Aku gak ngerti Erma ngomong apa ke kamu. Yang jelas aku gak pernah bilang kalau mau balikan sama kamu. Kita sudah selesai." Hendra meluruskan. "Sebenarnya kalau bahas nyesel atau gak kan semestinya kamu yang nyesel dong. Sudah jelas kamu yang gak setia, kamu yang berubah, kenapa jadi aku yang salah?"
"Kamu jelas salah! Kamu terlalu dominan. Aku berasa gak bisa bernafas di dekatmu." Nelly tak mau kalah.
"Nah, jelas kan, kamu gak nyaman sama aku? Kamu ngaku sekarang. Tapi itu juga bukan pembenaran untuk selingkuh dengan Roby. Kenapa harus dia? Masih banyak laki-laki lain! Kamu beneran merusak persahabatan kami." Hendra tak sanggup menahan emosinya.
"Karena Roby selalu ngerti. Dia fleksibel, gak suka ngatur dan ngekang aku! Aaah... Kamu jahat, Dra!" Tangis Nelly semakin menjadi.
"Semua sudah hancur. Kita selesai. Aku gak mau bahas ini lagi sama kamu. Biarin aku bahagia sama Erma. Jangan ganggu!"
"Tapi Erma itu cuma pelarianmu. Kamu sadar itu. Kasian perempuan itu. Aku juga masih pingin balik lagi sama kamu. Kita bisa perbaiki semuanya. Iya kan?! Pertunangan itu cuma kedokmu. Kamu gak bisa nutupi hatimu dari aku."
Tut tut tut... Hendra menutup telepon. Ia lalu ke toilet, mencuci wajahnya lalu kembali ke dalam kantor melayani para customer. Setidaknya kesibukannya di bank membuat ia lupa. Lupa akan Nelly yang sebenarnya masih mencengkeram hatinya begitu kuat.
Bersambung...
Bondowoso, 28 Februari 2022
Komentar
Posting Komentar