Derap Kaki Di Bawah Rembulan (pentigraf)
Seorang laki-laki dengan kaos hijau tua yang telah pudar warnanya di bagian bawah tengkuk berlari kencang melewati gang sempit. Sesekali ia menoleh ke belakang, lalu mempercepat larinya. Nafasnya tersengal, mulutnya terus saja terbuka untuk menghirup oksigen yang lebih banyak. Derap kakinya memecah kesunyian malam dengan bulan yang masih separuh. Tumpukan kardus di belakang pertokoan yang sudah tutup tak jarang tercecer ke tengah jalan yang ia lalui. Ia pun melompat atau menyingkirkannya dengan kaki yang mulai gemetar setelah berlari lebih dari tujuh menit. Di ujung lorong buntu langkahnya terhenti lalu ia melompati tembok setinggi dua meter di hadapannya hingga mendarat di halaman belakang sebuah rumah. Sebuah lampu sepuluh watt tergantung di bawah pohon mangga yang berada di sisi kiri. Sisi kanan yang cukup gelap, membuat laki-laki itu memutuskan untuk bersembunyi di sana.
Beberapa detik kemudian, dua orang laki-laki dengan tubuh tegap atletis juga melompati pagar tembok yang sama. Mereka menoleh ke kanan dan kiri, mencari seseorang yang sejak tadi mereka buru. Salah seorang dari mereka mengambil senter kecil yang ada di saku celana jeans sebelah kanan, menyalakannya lalu berjalan pelan mendekati rumah yang terlihat tak terawat itu. "Man, kamu ke kiri, aku ke kanan. Gak mungkin dia masuk ke rumah itu, pintunya tertutup rapat. Dia pasti bersembunyi di antara tumpukan kardus dan besi tua itu." Kata laki-laki bersenter.
Laki-laki bersenter mulai memeriksa setiap sudut di sisi kanan hingga ia menemukan sebuah timba besar dengan tutup di atasnya. Perlahan ia buka, lalu... Praakkk! Laki-laki yang ia buru berada tepat di belakangnya dan memukulkan sebuah balok kayu tepat di kepalanya. Ia jatuh tersungkur, tak sadarkan diri. Laki-laki yang memegang balok kayu lalu kabur, kembali melompati pagar tembok, berlari sekuat tenaga menyusuri gang yang tadi ia lewati. Ketika ia hampir tiba di mulut gang, langkahnya terhenti. Seorang perempuan cantik yang ia kenal berdiri di bawah lampu penerangan jalan. Dandanannya terlihat berbeda dengan rok plisket di atas lutut dan sepatu boot berwarna merah. Ia tersenyum sinis, berdiri angkuh sambil menggandeng seorang pria dengan pakaian yang terlihat mahal. Pria itu adalah boss kedua laki-laki yang mengejarnya tadi. Di sampingnya, seorang body guard berdiri tegap dengan mengacungkan pistol ke arah laki-laki berkaos hijau tua. "Yank, maafin aku ya. Ayo kita akhiri semua malam ini." Kata sang gadis yang kemudian diikuti suara tembakan keras. Lelaki itu ambruk. Darah mengalir deras dari kepalanya, membasahi aspal gang sempit. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, matanya masih sempat melihat gadis yang telah dua tahun menjadi kekasihnya itu dengan tatapan sendu.
Di bawah langit senja yang tak jingga, 14 Februari 2022
Komentar
Posting Komentar