Memilih Bahagia (Bagian 3)
Setelan kebaya cantik dan elegan tergeletak di atas kasur. Kerudung, aksesoris dan sandal berwarna perak dengan hiasan manik-manik juga berserakan di sekitarnya. Erma, sang pemilik kamar merebahkan diri di kasur itu dengan wajah kusut. Dia belum punya keinginan untuk mencoba setelan kebaya itu meski acara pertunangan akan dilaksanakan pekan depan. Sekali waktu, ia melirik kebaya itu lalu meremasnya dengan penuh amarah. Sandal berhak lima sentimeter itu juga tak luput dari kegusarannya. Entah sudah berapa kali alas kaki cantik itu terlempar ke tembok kamar seolah ia punya kesalahan yang tak termaafkan.
Pintu kamar diketuk. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya melongok ke dalam kamar.
"Sudah dicoba kebayanya? Gimana? Pas?" Kata perempuan itu tetap dalam posisinya tanpa melangkah sedikitpun ke dalam kamar.
"Males ah. Biarin aja kegedean, gak minat juga!" Jawab Erma sambil menarik selimut dan bersembunyi di dalamnya.
Wanita paruh baya itu menutup pintu lalu pergi. Ia kehilangan kata-kata. Ia tak mau lagi bertanya setelah tak kurang dari lima kali dia menanyakan hal yang sama pagi ini kepada Erma.
Melihat tantenya pergi, Erma mengambil handphone di atas dipan. Kembali ia menelpon Uki yang sejak semalam tak bisa dihubungi. Nomor Erma diblokir. Namun Erma tak kehilangan harapan, ia terus saja menghubungi Uki, berharap ia mau membuka blokiran dan menerima telepon atau sekedar menjawab dua puluh satu pesan teks dari Erma.
Lagi-lagi nomor sang kekasih tak bisa dihubungi. Erma mulai panik. Ia kemas beberapa baju dan buku kuliah yang kemarin sempat ia bawa pulang. Ia raih kunci motornya dan memakai jaket maroon kesayangannya. Ia berlari ke luar kamar, menuju dapur.
"Bu, Erma balik ke kampus." Pamitnya dari jarak lima meter.
"Loh, kan biasanya balik senin pagi?" Sang ibu yang sedang memasak balik bertanya.
"Ada tugas dadakan, harus dikumpulkan besok pagi. Di rumah gak ada printer. Bilang ke Bapak ya, Erma berangkat." Kata Erma ketus lalu langsung menyalakan motor dan segera berlalu.
Ibu dan tante Erma saling memandang. Mereka tahu pasti itu hanya alasan Erma untuk segera pergi karena tak suka dengan kesibukan para penghuni rumah dalam mempersiapkan acara pertunangannya minggu depan.
Erma tak langsung menuju ke kosan, ia mendatangi kontrakan Uki. Ia harus bertemu Uki dan berbicara tentang alasan Uki menghindarinya sejak semalam.
Sesampainya di sana, Uki tak ada di kontrakan. Ia pulang ke Banyuwangi dan belum kembali. Setidaknya itu kata seorang teman kontrakannya. Tapi hingga kamis siang, Uki tetap belum memberi kabar. Ia memilih pulang pergi dari Jember - Banyuwangi untuk berkuliah tanpa mampir ke kontrakan.
Erma lalu sadar, tak ada lagi yang bisa ia harapkan dari seorang Uki. Sabtu pagi minggu lalu itu memanglah sebuah firasat saat Uki menemui Erma sebelum ia pulang.
"Ma, kamu harus kuat apapun yang terjadi. Aku percaya kita bisa melewati semua ini meski kadang jalannya gak sesuai seperti yang kita mau. Oke, kuat ya! Makan yang banyak." Kata Uki waktu itu sambil menyodorkan sekotak bolen keju kesukaan Erma.
Bersambung.
Bondowoso, 26 Februari 2022
Komentar
Posting Komentar