Pesawat Kertas

Suasana kelas 12 IPA 2 begitu riuh selepas lomba tarik tambang dan lompat karung hari ini. Tak ada satupun dari para murid itu yang meninggalkan ruangan. Mereka masih mengobrol santai, memakan camilan bersama teman bahkan berkejaran sambil bersenda gurau seperti anak taman kanak-kanak. Arjuna tak kalah sibuk. Ia menulis sebuah pesan di lembaran kertas yang kemudian ia lipat menjadi pesawat. Ia terbangkan di dalam kelas. Tiupan angin dari jendela yang telah kehilangan kacanya kadang memang tak sejalan dengan pemikiran manusia. Pesawat kertas itu berbelok arah, jatuh ke tempat yang tak semestinya.


Opang memungut pesawat kertas yang mendarat di sepatu ketsnya. Penasaran, ia buka setiap lipatannya lalu membaca isinya dengan keras hingga menarik perhatian semua orang di dalam kelas. 


"Teruntuk gadis berpita ungu. Tatapan matamu meredakan gerimis dalam kalbu. Kau laksana senja yang tak pernah bosan untuk ku tunggu di setiap penghujung hariku." Katanya dengan mimik bahagia. 


"Cieeee.... Gadis berpita ungu. Apa jawabanmu?" Kata Opang melanjutkan godaannya pada Devi yang sedang duduk di sampingnya. 


Devi hanya tertunduk, berusaha menyembunyikan pipinya yang memerah. Ia satukan rambut panjangnya lalu ia letakkan di bahu kanan. Tak lupa ia perbaiki posisi pita ungu yang tampak manis menghias rambut lurusnya. Ia tak mampu menengadahkan wajahnya yang menjadi pusat perhatian semua orang di kelas. Mereka menggoda Devi bahkan mengucapkan selamat setelah adanya ungkapan cinta beraroma romantis. 


"Loh nggak, Rek. Ojo salah paham, aku cuma iseng nulis. Gak ditujukan untuk Devi kok. Bener deh. Jangan marah ya, Dev. Maap.. Maap." Arjuna menautkan kedua telapak tangannya sambil tersenyum malu. Ia sungguh menyesal, pesawat kertas itu tak sampai kepada orang yang ia tuju. 


Di bangku depan paling kanan, Wenda tertawa lepas. Ia lalu mengirim pesan pada Arjuna. "Hmmm... Gak tak bonceng loh nanti." Dengan emoticon tawa di akhir teks. 


"Ampuuun... Wahai gadis berpita ungu. Aku memang sanggup berjalan kaki pulang sejauh sepuluh kilometer, tapi aku tak sanggup jauh darimu." Balas Arjuna pada gadis yang telah menjalin kasih dengannya selama setahun secara sembunyi-sembunyi. Meski telah lama, hubungan itu belum ada tanda-tanda mendapat restu dari orang tua Wenda. 


Namun dalamnya hati tak ada yang tahu. Ada sebuah rasa yang tumbuh semakin subur. Pesawat kertas sederhana telah mengokohkan keberadaannya, menyegarkan asa yang pernah pupus. Devi membulatkan tekad untuk mengutarakan rasa cinta yang selama ini ia pendam, segera kepada Arjuna berseragam putih abu-abu.


Bondowoso, 12 Februari 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga