Rindu Berbalut Luka (Pentigraf)

Bibirku tak mampu bergerak apalagi berucap. Aku tak sanggup mengatakan kepada ayah dan ibu bahwa mas Dito telah menceraikanku. Malam itu kami bertengkar tentang masalah sepele, penanak nasi yang lupa aku nyalakan hingga nasi belum juga masak selama dua jam. Padahal mas Dito sangat lapar sepulang kerja dan sangat lelah dengan deadline di kantornya. Pertengkaran tak terelakkan. Caci maki, kata-kata kasar sebagai istri yang tak becus dengan pekerjaan rumah terlontar mulus dari mulutnya yang tiga tahun lalu mengucap janji suci pernikahan denganku. Lalu, kata talak itu keluar seperti truk yang mengalami rem blong. 


Malam itu aku pergi dari rumah kontrakan hanya dengan membawa pakaian yang melekat di tubuhku dan sebuah dompet yang berisi uang dua puluh ribu. Uang itu cukup untuk membayar ojek online menuju rumah orang tuaku. Sesampainya di sana, aku hanya mampu memeluk ibu dengan air mata deras yang tak mampu aku kendalikan. 


Dua tahun berlalu setelah perceraian itu. Aku sudah memaafkan masa lalu dan membuka lembaran baru dengan berfokus pada bisnis pakaian yang semakin sukses seiring waktu. Namun hatiku kembali tergores saat aku melihat mas Dito datang ke tokoku bersama seorang wanita yang tengah berbadan dua. Mereka terlihat begitu romantis memilih pakaian hamil. Ternyata aku hanya memaafkan masa lalu namun tak sepenuhnya lupa pada rasa itu, rasa rindu pada mas Dito yang pernah membersamaiku selama sewindu. 


Bondowoso, 6 Februari 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga