Kursi Tunggu
Menunggu adalah sebuah proses sebelum sampai di titik yang dituju. Menunggu tak jarang mengundang ragu, tamu yang sesungguhnya tak diundang tapi intens datang entah dari mana. Ragu bagiku adalah kumpulan gelisah, resah dan bimbang yang berpadu membentuk koloni baru. Koloni yang mungkin awalnya kecil lalu kemudian merebak tak terkendali, memintaku mundur segera atau ia terus merongrong hingga berhenti menunggu sepenuhnya sebagai akhir cerita.
Jika engkau berpikir menunggumu setelah dua purnama berlalu adalah hal mudah, maka selayaknya engkau berpikir bahwa merubah air laut menjadi sirup ceri adalah hal yang lumrah. Lalu aku tak perlu terperangah dengan semua itu.
Menyapaku dalam diammu itu yang engkau katakan. Sedangkan bagiku, semua adalah pengabaian, sebuah titik yang tak pernah dapat ku terka karena bahasa hatimu belum pernah kupelajari di bangku sekolah.
Aku pernah terluka sebelumnya setelah berhasil menunggu seseorang selama dua pekan. Waktu yang tak singkat bagiku, kala itu. Lalu engkau datang, menawarkanku mampir di sela waktu itu untuk menyeruput secangkir teh hangat. Itu jika kau lupa. Padahal menunggu adalah fokus pada yang dituju, bukan nyambi ngopi atau ngeteh, dan... Aku akui, aku melupakan itu. Lalu dengan senyum manismu, engkau ingin menghapus kecewaku. Lagi- lagi aku bertemu kata "menunggu". Engkau butuh waktu menyelesaikan yang lalu namun tak mampu menepis rasa padaku.
Kini dengan angkuhnya aku merasa, kecewa takkan menjadi akhir penantianku. Bukankah kali ini aku menunggu lebih lama dibanding kala itu? Naif! Aku tahu itu. Padahal lamanya waktu tak pernah menjanjikan akhir bahagia. Namun wajar, kau tahu? Banyak orang menunggu hujan deras setelah kemarau panjang berlalu.
Komentar
Posting Komentar