Luka Masa Lalu (Pentigraf)
Sulis duduk di sebuah kursi stainless panjang bersama ibunya yang telah tua renta. Sang ibu merebahkan kepalanya ke bahu Sulis yang dengan lembut membelai tangan wanita berusia tujuh puluh delapan tahun itu. Lebih dari tiga puluh orang juga tampak di sana. Mereka sama-sama mengantre untuk memeriksakan diri ke seorang dokter saraf di sebuah rumah sakit terkenal. Meski berada di luar kota dengan jarak tempuh lima jam, Sulis tetap mengajak sang ibu untuk berobat ke sana karena fasilitas rumah sakit di kotanya belum lengkap. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk kesehatan sang ibu.
Nomor antrean dua puluh empat membuat Sulis dan ibu menunggu cukup lama hingga lebih dari satu jam. Mereka sengaja datang lebih awal agar tidak terlambat. Untung saja saat ini Sulis mengajak seorang sopir untuk mengendarai Alphard miliknya, sehingga perjalanan jauh ini tidak begitu terasa melelahkan dan ia bisa selalu membersamai sang ibu.
Nomor antrian sembilan belas dipanggil. Nama yang disebutkan petugas membuat Sulis menoleh dan penasaran dengan pasien tersebut. Matanya semakin terbelalak saat ia melihat seorang laki-laki berumur sekitar lima puluh tahunan berjalan terseok-seok karena penyakit stroke yang dideritanya. Seorang perempuan yang terlihat seperti istrinya memapah laki-laki itu sambil mengomel karena ia tak bisa berjalan lebih cepat. Laki-laki itu hanya diam dan berusaha berjalan lebih cepat. Tangannya yang juga bengkok terkena penyakit saraf itu begitu lemah memegang tongkat empat kaki yang dibawanya. Tak terasa bulir-bulir air mata Sulis menetes. Ia teringat betapa gagahnya pria itu tiga puluh tahun lalu saat menjadi kekasihnya namun pernikahan mereka dibatalkan karena sang laki-laki memilih perempuan yang saat ini sedang mengomel di sampingnya.
Bondowoso, 4 Maret 2022
Komentar
Posting Komentar