Memilih Bahagia (Bagian 10)

Erma terlihat tak acuh pada gawainya yang berdering. Nama Hendra yang terpampang di layar semakin membuatnya enggan untuk menerima panggilan itu. Erma terus saja berbaring dengan wajah yang cemberut menghadap langit-langit kamar kos berukuran empat kali lima. Ia lalu meraih sebuah bantal besar di sisinya dan menutupkannya ke wajah. Dengan kedua tangannya, ia semakin menekan bantal ke wajahnya lalu berteriak keras penuh kekesalan. 


Beberapa menit sebelumnya, sang bapak menelepon Erma dengan amarah yang tak terbendung. Laki-laki berusia empat puluh tujuh tahun itu kecewa dengan sikap Erma yang menolak ajakan Hendra untuk menemaninya menghadiri pesta pernikahan temannya. Sibuk dengan tugas tentu adalah alasan logis yang bisa Erma katakan. Tapi sang bapak yang mendengar penolakan Erma dari sang istri menjadi berang. Erma harus hadir bersama Hendra tak peduli apapun alasannya. 


Erma beranjak dari tempat tidurnya. Ia berganti pakaian. Rok span berbahan jeans biru selutut dan kemeja kotak-kotak dengan warna senada membuat Erma tampil segar. Ia juga mengikat rambutnya yang mulai memanjang, hanya tersisa sejumput rambut pendek di tengkuknya. Tak lupa sebuah dompet ia masukkan ke dalam tas kecil yang ia selempangkan ke bahu kanannya dan meraih kunci motor. Gawai yang sedari tadi menjerit tetap tak ia pedulikan dan ia tinggalkan begitu saja di atas kasur.


Deretan buku berjejer rapi di sebuah toko buku di area kampus. Tak banyak pengunjung di siang yang sangat terik itu. Apalagi di jam makan siang seperti saat ini, warung-warung makanlah yang terlihat penuh.


Erma melewati sebuah lorong yang mengarah ke rak buku bertuliskan novel. Tangannya meraih sebuah novel bercover jingga yang tampak menarik lalu ia membaca sinopsisnya. Tak merasa cukup mengesankan, ia menaruh kembali novel itu lalu mencari novel lainnya. Entah sudah berapa judul yang ia baca sinopsisnya, namun tak mampu menyentuh hatinya, hingga ia menemukan sebuah novel yang menurutnya sangat memukau. Kisah seorang laki-laki yang mencintai sahabatnya selama bertahun-tahun tanpa sahabatnya tahu. Kisah romantis seperti inilah yang ia butuhkan. Jiwa Erma sedang mendamba manisnya sebuah hubungan meski hanya melalui sebuah bacaan karena kenyataan hubungan cinta yang manis belum bisa ia dapatkan kembali, setidaknya untuk saat ini, sebelum ia bisa melepaskan diri dari Hendra dan kembali pada Uki.


Mata Erma lekat memandang novel bersampul merah jambu. Gambar seorang perempuan berambut pendek yang tengah dibonceng oleh seorang laki-laki menggunakan sepeda diantara rimbun pepohonan mengingatkannya pada Uki. Pikirannya berputar kembali pada kenangan setahun yang lalu. Saat itu Erma yang sedang membantu Uki mengetik tugas di kontrakannya baru menyadari bahwa chargernya tertinggal di kosan setelah baterai notebook tersisa sepuluh persen. Mereka lalu memutuskan untuk menjemput charger itu dengan mengendarai sepeda ontel tua milik salah satu teman kontrakan Uki karena motor Uki sedang dipinjam temannya yang lain dan tak ada motor lain di sana. 


"Ma, kamu masih di belakangku kan?" Tanya Uki sedikit menoleh ke belakang sambil mengayuh sepeda. 

"Lha iya, pikirmu aku ketinggalan tah?" Kata Erma sambil mencubit pinggang kanan Uki. 

"Oo tak pikir ilang. Kamu enteng. Aku kayak bawa angin." Goda Uki sambil tertawa lepas. 

"Huh! Kamu bully aku ya? Kayak dirinya sendiri punya banyak daging aja. Paling kalau ketemu anjing, kamu dikira tulangan." 

Uki terbahak mendengar Erma yang tak mau mengalah. 


Bruukkkk! 

Beberapa buku jatuh berceceran di lantai. Erma memungut novelnya yang juga terjatuh, bercampur buku-buku lain. 

"Kamu gapapa, Ma?" Suara itu menciptakan debar yang telah lama menghilang, menyibak rindu yang intens datang belakangan ini. 

Erma mengangkat wajahnya, melihat seseorang yang juga memungut beberapa buku di hadapannya. 

Deg! 

"Uki? Duh, mati aku! Kok dia tambah cakep?!" Tak sadar Erma mengucapkannya dengan lirih. Orang di hadapannya mendengar itu, tersenyum, lalu kembali menunduk mengambil buku-buku yang berserakan. Sementara Erma belum mengatupkan bibirnya yang menganga. 

"Kamu beli satu novel itu aja? Sini titip aku aja, biar gak lama antri." Uki mengambil novel di tangan Erma yang masih terpaku dan kembali ke antriannya di depan kasir tadi. 


Setelah selesai, laki-laki tampan itu mendatangi Erma di dekat tangga dan memberikan novel. 

"Makasih, Uki. Ini uangnya." Erma menyodorkan uang seratus ribu pada laki-laki yang masih menguasai hatinya itu. 

"Udah gak usah. Kamu bayarin aku es boba aja di depan sana." Uki tersenyum lalu menuruni tangga dan disusul Erma yang masih tak percaya bertemu Uki di sana. 


"Aku minta maaf ya, Ma. Aku tau kamu sebel sama aku." Uki memulai pembicaraan setelah menyeruput es boba di booth depan toko buku. Ia menoleh pada Erma yang duduk satu meter di sebelahnya. 

"Bayu cerita kalau kamu ke kontrakan cari aku tiga minggu yang lalu." Uki menghela nafas. "Tapi aku sengaja menghindari kamu dengan bolak-balik pulang ke rumah tiap hari. Aku cukup pengecut ya." Uki tersenyum dengan wajah bersalah, kembali melirik Erma. 

Erma terdiam, mendengarkan Uki yang sedikit bergetar suaranya. Ia mencoba menetralisir kecamuk dalam hatinya dengan menyeruput es boba dan lurus menatap jalan raya. 

"Aku khawatir sekaligus sebel sama kamu, Ki. Tapi akhirnya aku sadar, itu hak kamu. Di posisi kamu pasti juga gak gampang, kan?" Erma memberanikan diri melihat wajah laki-laki yang ia rindukan. "Hubungan kita yang sebenarnya baik-baik saja, harus dibuat gak baik-baik saja." Erma merasa air matanya akan menetes, maka ia menengadah, menghadap ke langit. 

"Jujur aku pingin pertahankan kamu, tapi aku gak yakin dengan keadaanku. Dia jauh lebih baik dari aku." Uki menunduk. 

"Itu kan menurutmu!" Erma menekuk bibirnya. 

"Eh? Jadi menurutmu aku lebih ganteng dan keren, gitu?" Goda Uki. 

"Ih... Pede!" 

Uki tertawa melihat wajah Erma yang memerah, ketahuan masih mengaguminya. 

"Terus hubungan kita gimana?" Erma menatap Uki serius. 

"Hubungan kita seperti hujan dan air." Uki tersenyum. 

"Hah? Maksudmu gimana sih?" Erma menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Bagaimanapun juga, mana mungkin ada hujan tanpa air, sama gak mungkinnya dengan aku bisa hubungi kamu padahal nomorku kamu blokir." Sindir Erma. 

"Wow, maafkan aku, Tuan Putri. Sudah. Sudah aku buka blokirannya." Uki terlihat menekan gawainya lalu tersenyum manis, membuat Erma susah lupa. 


Bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga