Memilih Bahagia (Bagian 11)

Menjelang sore, Erma kembali ke kosan. Hatinya yang tadi kesal, kini menjadi bahagia seolah pelangi baru saja datang setelah badai menerjang. 


"Ciee... Ada yang lagi bahagia nih," Desti menggoda Erma yang akan membuka pintu kamarnya. "Dari mana sih? HP ketinggalan atau emang sengaja gak dibawa? Berisik tau. Tunangan cakep telepon melulu."

"Lah tau dari mana kalau dia yang telepon?" Kata Erma menyelidik. 

"Hei, gadis cantik yang pelupa. Pintu kamarmu gak dikunci. Nada deringmu heboh kayak bu kos nagih uang bulanan. Kabur kemana sih?" Desti memperhatikan Erma dari ujung kepala hingga ke kaki. 

"Aku bete." Erma menjawab sambil membuka pintu kamarnya. "Mas Hendra telepon terus, capek aku nolaknya. Dia ngajak aku ke acara nikahan temannya."

"Oo gitu. Tapi akhirnya jadi bahagia kan? Itu buktinya, sampe sini wajahmu jadi shining shimmering splendid." Desti terus saja menggoda sambil mengikuti Erma ke dalam kamar. 

"Oh itu." Erma langsung berbalik menghadap Desti dengan wajah bahagia dan melompat kecil. "Aku ketemu Uki! Aaaa... Dia tambah cakep, Des. Serius, cakep banget!" Erma tersenyum bahagia sambil mengingat wajah Uki tadi. 

"Jadi kalian akhirnya kencan bertiga?" Desti mengangkat alis. 

"Hah? Maksudmu gimana?" Erma tak paham dengan maksud sahabatnya itu. 

"Eh, bukannya tadi kamu pergi diikuti mas Hendra dari belakang? Aku lihat dia di depan kosan tadi. Kamu naik motor, dia naik mobil."

"Hah?! Mas Hendra ke sini tah? Aku gak tau loh. Sumpah!" Erma terkejut lalu meraih gawainya yang tadi ia tinggalkan di atas kasur. 

Terlihat delapan belas panggilan tak terjawab dari Hendra dan dua pesan teks. Belum selesai Erma membaca semua pesan itu, telepon kembali berdering. 

"Hallo, assalamu'alaikum. Ada apa, Mas?" Erma akhirnya mengangkat telepon dari Hendra. Si penelepon menyampaikan maksudnya. "Oh oke, aku turun. Tunggu ya, tiga jam lagi. Aku masih ngantuk, mau tidur dulu." Erma langsung menutup telepon dan menghempaskan tubuhnya ke kasur. 

"Ma... Jangan gitu dong. Meski gak cinta, tapi setidaknya jangan buat dia nunggu tiga jam di luar sana. Kan kasian. Dia jauh-jauh datang ke sini kan cuma mau ketemu kamu." Desti yang duduk di pinggir kasur memperhatikan Erma yang mulai memeluk guling, bersiap tidur tanpa berganti pakaian.

Dengan mulut mengerucut, Erma merapikan rambutnya lalu turun menemui Hendra.

 

Di teras kosan, Hendra tengah duduk bersandar sambil memainkan gawainya. Celana jeans berwarna krem dipadukan dengan kaos hijau tua yang pas di tubuh, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang rajin fitness setiap minggu. Hendra tampan dan mempesona. Tentu saja banyak kaum hawa yang setuju dengan pernyataan itu tapi tetap tak mampu menerobos hati Erma yang tetap setia pada Uki. 


Erma duduk dengan malas di kursi sebelah Hendra. Ia tak menoleh ke arah Hendra meski laki-laki itu sudah memberikan senyum terbaiknya. 


"Sudah pulang dari toko buku, Dek?" Hendra memulai pembicaraan. 

"Ini sudah duduk, artinya ya sudah pulang. Kenapa tadi gak nyapa aku pas di luar?" Erma berbicara ketus. 

"Gapapa... Aku cuma kangen, pingin lihat kamu karena kalau ketemu, pasti kamu gak mau." Hendra lekat menatap Erma yang terlihat manis dengan rok span jeansnya.

"Buktinya sekarang ketemu, kan?" Erma masih tak ramah. "Tadi bapak telepon, marah. Maafin ya, Mas. Aku gak bisa ikut ke acara nikahan teman mas. Toh mas kan bukan anak kecil, bisa pergi sendiri kan?" Erma melihat ke arah Hendra, menunggu jawaban. 

"Tapi datang sendiri itu gak enak, Dek. Lagian punya tunangan kok dianggurin? Sekalian aku mau kenalin kamu ke teman-temanku."

"Aku banyak tugas minggu ini, beneran gak bisa pulang dan temani mas." Erma mulai berbicara lebih halus. 

Hendra tersenyum. Lalu mengingat kembali kejadian tadi saat Erma duduk berdua dengan mantan pacarnya. 

"Sibuk nugas apa kencan?" Hendra menyindir sambil membuang muka. Mulai ada nada cemburu dari kalimatnya. 

"Huh? Maksudnya?" Erma pura-pura tak mengerti dengan perkataan Hendra. Ia ingin tahu reaksi Hendra selanjutnya. 

"Aku tadi lihat kamu sama Uki." Wajah Hendra masam. 

"Kok tau kalau namanya Uki? Aku gak pernah kenalin kalian loh." Erma menyelidik. 

"Yeah, setidaknya kan aku harus tau mantan dek Erma." Suara Hendra mulai bergetar. "Aku tau dek Erma masih butuh waktu. Tapi ketemu mantan pacar menurutku bukan salah satu cara untuk menumbuhkan rasa suka dek Erma ke aku." Hendra mulai menunjukkan sifatnya yang posesif. 

Erma sedikit kaget dengan perubahan wajah Hendra hingga ia tak bisa berkata-kata. 

"Woah... Mas cemburu?"

"Jelas! Aku gak suka kamu ketemu dia." Nada bicara Hendra mulai meninggi. Erma masih mengerutkan kening, tak percaya dengan sikap Hendra yang posesif. "Aku pulang." Hendra beranjak dari duduknya menuju mobil. 

Erma pun beranjak, berjalan cepat, mengadangi jalan Hendra. 

"Tunggu. Mas beneran marah?" Erma menengadah, melihat wajah laki-laki yang lima belas sentimeter lebih tinggi darinya. 

"Udah deh, gak usah dibahas." Hendra berbelok, mencari jalan lain yang tak dihalangi Erma. 

"Aku gak sanggup deh kalau posesif gini." Erma berbicara keras dari tempatnya berdiri. Hendra menoleh. Wajahnya tetap tak bersahabat. 

"Kamu sanggup atau gak, yang jelas kita udah dijodohkan. Kita gak bisa mundur. Aku ya kayak gini. Ya terima aja!" Hendra juga berbicara dari tempatnya berdiri, tak ingin mendekati Erma. 

"Hah? Kayaknya mas salah milih aku. Kalau gak cinta ngapain dipaksa? Siapa bilang kita gak bisa mundur? Mobil aja bisa mundur, masa kita nggak?!" Erma pergi, masuk ke kosan dengan langkah yang dihentakkan. 

Hendra semakin marah, ia mendengkus kesal. Bergegas ia masuk ke mobilnya, memukul kemudi dan berteriak. 


Hari ini begitu menyesakkan baginya. Bukan hanya karena Erma yang ternyata tak mudah ditaklukkan tapi juga karena siang tadi ia mendengar dari ibunya tentang Zidan. Laki-laki keras kepala yang punya geng brutal itu akan melamar Nelly minggu depan. Meski mantan kekasih Hendra itu tak mau menjalin hubungan dengan Zidan, ia akan tetap datang melamar. Dada Hendra terasa panas. Api cemburu berkobar dahsyat di hatinya.


Bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga