Memilih Bahagia (Bagian 6)

Saat bersantai selepas isya, Hendra menelepon Erma hingga lima kali tapi Erma tak menjawab. Ia membiarkan gawainya menyanyikan lagu wishes oleh Jamie Miller. Erma yakin Hendra akan membahas kedatangannya ke rumah Nelly pagi tadi. Dia percaya bahwa Nelly tak akan diam saja dan langsung menghubungi Hendra. 


Pesan teks masuk. 

_Kenapa teleponku gak diangkat, Dik? Apa dik Erma sibuk?_ 


Erma hanya membacanya tanpa ada keinginan untuk membalas. Dan benar saja, tak ada pesan teks ataupun telepon lagi setelah itu. Erma lega. Lalu ia mulai memejamkan mata meski jam belum menunjukkan pukul delapan malam dan teman-teman kosnya masih riuh bercanda.


Suara Desti membangunkan Erma yang sempat terlelap sekitar satu jam. Ia memaksa Erma bangun dan mengajaknya keluar untuk membeli makan malam. Erma menolak. Namun setelah dirayu beberapa menit, akhirnya Erma menuruti permintaan sahabatnya itu.


Di sebelah gerbang kosan, sebuah fortuner putih terparkir. Sang pengendara tampak masih duduk di kursi kemudi. Ia sedang menerima telepon dari seseorang. 


"Kamu sudah menghubungi Erma?" Kata laki-laki di ujung telepon. 


"Iya. Ini sudah sampai di kosan Erma." Jawab sang pengemudi Fortuner. 


"Bagus. Kamu harus buat Erma suka sama kamu biar kalian segera menikah. Dengan begitu, tanah haji Parto bisa segera aku miliki."


"Iya, Kakek. Hendra paham. Hendra sedang berusaha." Laki-laki itu menjawab dengan hati-hati sebelum telepon ditutup.


Hendra keluar dari mobil Fortunernya. Ia nekat mendatangi Erma di kota sebelah meski badannya terasa lelah sepulang bekerja. Misinya untuk membuat Erma jatuh cinta padanya harus berhasil agar sang kakek bangga. 


Belum juga ia menekan bel kosan, pintu rumah itu terbuka. Seorang gadis cantik berambut pendek dengan kardigan yang bertabrakan warnanya dengan kaos oblong dan celana sebetis yang ia pakai tengah memegang kunci motor dan bersiap keluar bersama sahabatnya. Mereka sama-sama terkejut. Hendra tak menyangka akan semudah itu bertemu Erma. 


"Loh, mas Hendra ngapain malam gini di sini?" Tanya Erma keheranan. 


"Hehehe. Ndak, Dek. Cuma kangen dek Erma. Habisnya telepon mas gak diangkat tadi." Jawab Hendra sambil tersenyum memamerkan lesung pipinya. "Sudah malam, dek Erma mau kemana?"


"Sama dong, sudah malam kenapa mas datang ke kosan perempuan?" Jawab Erma sinis. 


"Jangan gitu lah, dik. Setidaknya biarlah kita ketemu sebentar karena setelah acara kemarin dek Erma langsung mengunci diri di kamar dan gak mau menemui mas."


"Nah udah ketemu kan sekarang. Mas boleh pulang deh. Baru pulang kerja kan? Pasti capek." Erma masih ketus. Desti mencolek lengan Erma karena gemas dengan cara bicaranya. 


"Apa mungkin dek Erma mau keluar beli makan malam? Biar mas antar ya, ini gerimis loh, daripada naik motor dan pake jas hujan. Mas bawa mobil. Teman dek Erma bisa ikut juga." Hendra tersenyum pada Desti. Desti membalas senyum laki-laki tampan yang biasanya hanya bisa ia lihat wajahnya di profil WA. 


"Gak usah, makasih. Kami masih bisa pake payung kok, jalan kaki." Erma menunjuk payung yang tergantung di dekat garasi.


"Iya, Mas, boleh. Daripada baju kita basah. Males ah malem gini basah-basahan, ntar flu." Kata Desti melihat ke arah Erma sambil memberi kode untuk menerima ajakan Hendra. 


"Iih... Apaan sih, Des!" Mata Erma melotot ke arah Desti. 


"Lagian cuma naik mobil bentar beli makanan, kan dimakan di kosan." Desti tersenyum sambil merangkul lengan Erma. "Kan tahu tek yang mau kita beli di jalan Riau, lumayan jauh kalau jalan kaki."


Erma menghela nafas dengan wajah yang masih ditekuk. 


"Iya deh, ayo. Aku cuma kasian sama mas sudah jauh datang ke sini. Sekalian mas bisa beli makan juga." Erma menyanggupi, Hendra tersenyum bahagia.


Tahu tek fenomenal ini banyak digemari para mahasiswa bukan hanya karena rasanya yang enak tapi juga karena porsinya lumayan banyak dengan harga yang murah jadi wajar saja meski cukup jauh dari kosan, Erma dan teman-temannya sering membelinya. Semakin malam, antrian pembeli semakin mengular. Erma dan Desti memilih duduk di lesehan yang disediakan penjual tahu tek. Hendra tentu saja tak mau kehilangan momen ini untuk mendekati Erma. Mereka mengobrol santai, sama seperti dulu saat mereka masih menjadi tetangga biasa, tanpa ada ikatan pertunangan. 


Beberapa meter dari tempat mereka duduk, Uki bersama seorang teman sedang mengantri tahu tek yang sama. Terhalang pohon, ia bisa leluasa memandang Erma dari kejauhan. Rasa rindu yang menggebu ingin bertegur sapa namun Uki sadar sepenuhnya untuk menjauhi Erma yang telah terlihat bahagia dengan hubungan barunya. 


Bondowoso, 2 Maret 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga