Memilih Bahagia (Bagian 8)
Seperti pisau dapur, seseorang tak akan tahu tajam tumpulnya tanpa mencoba menggunakannya untuk memotong kentang. Begitu juga hati, tak akan ada yang tahu sedalam apa gejolaknya tanpa dipertemukan dengan sesuatu yang membuatnya gelisah.
Hendra yang awalnya hanya menerka sisa cintanya pada Nelly setelah pengkhianatan yang dilakukan sang kekasih, nyatanya tak dapat menolak sentuhan lembut perempuan yang pernah mendampinginya selama setengah windu itu. Degup jantungnya semakin kencang, tatapannya menjadi teduh, tenggorokannya tiba-tiba saja menelan ludah, saat wajah mereka begitu dekat hingga Hendra bisa merasakan hembusan nafas Nelly yang mulai tak beraturan.
Mendekat, Hendra semakin mempersempit jarak wajahnya dengan Nelly, ia memiringkan kepalanya, bibirnya sedikit terbuka. Gadis cantik itu terbawa suasana lalu menutup matanya.
"Pulang, aku ngantuk!" Bisik Hendra di telinga kiri Nelly. Gadis itu terkejut dan membuka mata. Ia tak sempat berkata-kata. Hendra menarik tangan Nelly hingga ke mobil Brio merah miliknya. Gadis itu hanya menarik nafas lalu menghembuskannya dengan kasar. Ia segera pergi dengan mobil yang ditutupnya dengan keras.
Saat akan memasuki rumah, Hendra melihat jepit rambut berhias batu swarovski tergeletak di atas meja teras. Jepit rambut kesayangan Nelly itu tertinggal entah disengaja atau tidak. Hendra meraihnya lalu masuk ke dalam rumah. Setelah mengunci pintu rumah dengan tubuh yang benar-benar lelah, ia merebahkan diri di sofa, memandangi langit-langit, kembali mengingat debaran yang baru saja ia rasakan. Ia sadar sepenuhnya bahwa benar rasa cinta pada Nelly masih ada. Kekagumannya pada gadis yang penuh semangat juang hingga ia menjadi pebisnis kuliner sukses itu tak pernah pudar. Tapi pantaskah Nelly diperjuangkan? Apakah pengkhianatan itu tak akan berulang? Pikiran Hendra kacau. Tak terasa matanya terpejam dan terlelap di sofa ruang tamu.
________________________
Kembali ingin menguji rasa dalam hati, Hendra berniat mengunjungi Nelly sepulang kerja. Jepit rambut itu merupakan alasan logis yang bisa ia gunakan untuk berbicara dengan Nelly.
Senja kemerahan hampir tertelan gelap, selepas shalat magrib di mushola kantor, Hendra menuju rumah Nelly. Perjalanan empat puluh menit ke rumah Nelly membuatnya menerka, apa saja yang akan ia bahas dengan Nelly selepas mengembalikan jepit kepada sang pemiliknya. Atau mungkin dia tak perlu repot berpikir karena pasti Nelly lah yang lebih dulu akan mengajaknya berbicara panjang lebar.
Hendra tiba di depan rumah Nelly. Rumah megah bergaya Eropa dengan pilar-pilar raksasa dan kaca-kaca panjang serta tirai mewah menjuntai yang cukup jauh dari kota itu dihuni oleh Nelly bersama ibu dan kedua adiknya. Ayah Nelly telah lama meninggal setelah kecelakaan maut yang merenggut nyawanya saat Nelly duduk di bangku SMP.
Perjuangan Nelly tidaklah mudah dalam mencapai kesuksesan. Setelah kepergian sang ayah, perekonomian keluarga semakin menurun. Maka dari itu, setelah lulus SMP, Nelly bersekolah di SMK jurusan tata boga. Sekedar coba-coba dan demi membantu perekonomian keluarga, Nelly membuat kue kering untuk lebaran dan menjual nasi dalam mika yang ia titipkan di warung makan area terminal saat ia berangkat sekolah. Beruntung, masakan dan kue buatannya disukai banyak orang, pesanan terus mengalir setiap hari hingga akhirnya dia sukses menjadi pebisnis kuliner.
Belum turun dari mobil, Hendra melihat mobil lain yang juga tengah terparkir di samping gerbang rumah Nelly. Tak salah lagi setelah melihat plat nomornya, itu adalah mobil Robby. Hendra sempat ragu untuk turun tapi ia menepis keraguan itu hanya untuk melihat bagaimana reaksi Nelly saat ia datang ketika ada Robby juga di sana.
"Tumben ke sini, ada apa?"
Tanya Nelly ketus. Ia tak mempersilakan tamu yang pernah menjadi finalis model L-Men itu untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Aku cuma mampir, kangen." Kata Robby berbicara sambil menatap langit. "Aku gak tau mau pake alasan apa untuk datang ke sini. Tapi setidaknya acara pertunangan Hendra kemarin buat aku tau, kalau hubungan kamu dan Hendra benar-benar berakhir."
"Terus?" Gadis cantik itu akhirnya menghadap ke arah lawan bicaranya.
"Aku sempat berpikir, mungkin saja kita bisa memperbaiki hubungan." Laki-laki itu akhirnya menatap Nelly.
Nelly membuang muka. Ia tak mampu menjawab. Ada rasa bersalah pada laki-laki itu. Nelly membuat hubungan Robby dengan sang sahabat berantakan. Nelly pula yang membuat ia terluka dengan meninggalkannya saat hubungan mereka baik-baik saja tanpa dihalangi kehadiran Hendra. Tapi dalam hati, perasaan Nelly padanya tidaklah tulus. Robby hanyalah pelarian saat Nelly bertengkar dengan Hendra. Laki-laki baik itu hanyalah pembela perasaan Nelly yang kacau atau tertekan karena Hendra over protective dan terlalu mengatur segala hal.
"Maafin aku ya, By. Aku sebenarnya kecewa sama diriku sendiri, kenapa aku gak bisa move on dari Hendra." Nelly tetap tak bisa melihat ke arah Robby. "Kenapa aku gak bisa milih kamu yang jelas baik banget sama aku. Kenapa perasaan ini jatuhnya ke Hendra yang sering buat aku kesel karena sikapnya yang terlalu banyak ngatur aku." Gadis berambut panjang itu mulai menitikkan air mata. "Ternyata aku terlalu berharap. Berharap dia berubah jadi lebih baik ke aku. Berharap dia putus dengan tunangannya dan balik ke aku." Nelly tak dapat lagi menghentikan isak tangisnya.
Robby diam. Seperti biasa, ia selalu menjadi pendengar yang baik setiap Nelly berkeluh kesah.
"Aku harap kamu bisa ketemu perempuan yang baik karena kamu memang orang yang baik, By." Nelly menatap Robby.
Laki-laki itu tersenyum mendengar jawaban Nelly. Ia sadar bukanlah sang pemilik hati gadis cantik di hadapannya. Ia lega telah mengungkapkan isi hatinya meski hati Nelly tak berpihak padanya. Robby tak lagi berharap Nelly membalas perasaannya dan mengikhlaskan Nelly memilih jalannya.
"Makasih Nel, kamu sudah sempat hadir di hidupku. Aku hargai keputusanmu. Kita memang gak bisa milih pada siapa kita akan suka. Tapi kita tetap bisa memilih untuk berbahagia dengan semua keputusan yang kita punya. Aku gak kecewa sama kamu, aku juga gak menyesali hubungan yang pernah kita punya." Robby kembali tersenyum dan mengulurkan tangannya. "Semoga kita sama-sama bahagia dengan pilihan hidup kita."
Nelly menghapus air matanya. Ia menjabat tangan Robby dan mereka saling melempar senyum.
Hendra yang sedari tadi hanya mengintip mereka dari luar pagar besi, memutuskan untuk membuka pintu gerbang dan mendekati dua orang yang pernah dekat dengannya. Kedua orang itu kaget dengan kedatangan Hendra.
"Hai, By. Kamu lagi di sini juga ternyata. Maafin aku ganggu kalian. Aku cuma mau balikin jepit rambut Nelly yang tertinggal di teras rumahku. Kamu jangan salah paham, kami cuma ketemu sebentar." Hendra menyodorkan tas karton kecil berisi jepit Nelly yang tertinggal. "Dah, aku pamit pulang." Hendra tersenyum tipis lalu segera pergi dengan langkahnya yang besar.
Bersambung...
Bondowoso, 8 Maret 2022
Komentar
Posting Komentar