Kala Cinta Datang
"Kau baru pulang bersama James?" tanya Adam yang tengah duduk bersandar pada pagar besi.
Gadis yang semula fokus mengubrak-abrik isi handbagnya untuk mencari kunci rumah itu menoleh pada sumber suara. Tubuhnya seketika menegang melihat pria yang sedang ia hindari tengah duduk di depan pagar rumahnya.
"Adam? Apa yang sedang kau lakukan di sini?" suara Sandra sedikit tercekat.
Pria itu lalu berdiri. Temaram lampu jalan membuat bayangan hidungnya yang mancung terlihat jelas. Rambut bergelombang yang biasanya gondrong, kini terlihat pendek dan rapi, memamerkan rahang pipinya yang tegas. Alisnya yang tebal dan netra biru safir mampu menghipnotis siapapun untuk berkata, dia sempurna.
Adam Wilson, pria berusia akhir dua puluhan itu merupakan teman kecil sekaligus tetangga Sandra. Ia sering menunjukkan perhatian lebih pada gadis berambut cokelat itu namun gadis itu terlalu takut untuk mengakui bahwa di dalam hatinya ia pun menginginkan Adam.
"Aku hanya tak bisa melihatmu seharian ini," jawabnya santai sambil membersihkan debu di baju dan celananya setelah duduk di trotoar, "apa pekerjaan kantormu menumpuk hingga kau pulang larut malam?"
"Ah iya, lalu James mengantarku pulang karena khawatir," Sandra tersenyum lalu kembali mencari kunci rumahnya. Sial! Kunci yang sudah ia beri gantungan kunci beruang itu tak ditemukan. Padahal ia ingin segera pergi dari hadapan Adam.
"Apa yang sedang kau cari?" Adam mendekati Sandra lalu ia ikut melihat ke dalam tas Sandra hingga kepala mereka terbentur.
"Duh!" Reflek Sandra mengusap kepalanya dan mendongak. Mata mereka bertemu. Selama beberapa detik tatapan itu terkunci. Seolah dunia di sekitar mereka kabur. Hanya ada mereka berdua, dengan degup jantung yang semakin kencang.
"Ah maafkan aku," Adam mundur satu langkah, tersenyum tapi tak melepaskan tatapannya pada Sandra.
Gadis itu tampak salah tingkah berada di hadapan pria yang lima belas sentimeter lebih tinggi darinya.
"Aku hilang. Oh maksudku kunci rumahku hilang," Sandra seperti kehilangan kesadaran. Ia kembali menunduk mencari kunci rumahnya yang sebenarnya juga menghindari tatapan Adam.
Nyatanya, Sandra bertahan sekuat tenaga untuk menahan diri memeluk Adam yang kemarin baru menyatakan perasaannya pada Sandra. Ah suasana malam dan udara dingin ini bisa dipersalahkan. Mereka adalah perpaduan sempurna untuk menyatakan bahwa cinta Sandra juga untuk Adam. Namun ketakutan Sandra untuk menerima Adam bukan tanpa alasan. Ia tak ingin Adam sedih saat mereka berpisah nanti karena Sandra harus pindah ke Prancis. Ia mendapat promosi dan naik jabatan menjadi manager di perusahaan tempatnya bekerja. Jarak UK ke Prancis tidaklah dekat. Apakah mereka mampu bertahan? Lalu jika akhirnya mereka putus, maka Sandra tak yakin akan mampu menahan kesedihan karena kehilangan kekasih sekaligus teman kecilnya. Itu yang Sandra pikirkan.
"Apa kau yakin pagi tadi memasukkan kunci ke dalam tas? Atau mungkin kau lupa membawanya?" tanya Adam.
"Ah mungkinkah begitu?" Sandra menoleh pada Adam.
"Kau telepon saja ayahmu, mungkin saja ia tahu," Adam memberi saran.
"Hmm... Sayangnya, baterai handphoneku habis," Sandra menghela nafas.
"Kalau begitu, kau bisa memakai handphoneku. Ayo ikut aku ke rumah, aku meninggalkan handphoneku di rumah," ajak Adam, "sambil lalu kau bisa menunggu Pak Smith di rumah. Bukankah biasanya satu jam lagi dia sudah pulang bekerja? Apalagi di luar dingin."
"Kau tahu kalau di luar dingin, lalu mengapa kau menungguku di depan pagar ini?" Sandra mengangkat kedua alisnya.
"Seperti yang ku katakan tadi, aku tak melihatmu seharian. Aku berharap bisa bertemu denganmu meski sebentar saat kau pulang kerja," Adam dengan santai menjelaskan, "aku meneleponmu saat jam makan siang tadi di kantor tapi tak kau jawab. Mungkin kau sibuk. Jadi aku.."
Sandra melompat ke arah Adam. Ia memeluknya erat. Ia tak lagi peduli dengan rasa takut kehilangan. Ia hanya tak ingin kehilangan kesempatan bisa bersama Adam. Bukankah sejatinya cinta bisa saling menguatkan meski tubuh berjauhan?
"Adam, I love you, too," terdengar pengakuan tulus dari balik jaket tebal. Hati mereka melebur, menghilangkan kebekuan dan ketakutan.
Cinta memang selalu menemukan jalannya meski hanya disinari temaram lampu jalan dan kunci pintu yang sempat hilang. Karena cahaya cinta bisa datang dari mana saja dan pintu hati akan selalu terbuka bagi mereka yang sedang jatuh cinta.
Jauh dari Eropa, 8 April 2022
Komentar
Posting Komentar