Memilih Bahagia (Bagian 12)
Seperti cuaca, hati manusia tak bisa diprediksi perubahannya. Mendung yang pekat tak selalu berarti menyambut hujan yang lebat. Begitupun cuaca yang cerah, terkadang hujan deras datang menerpa tanpa ada aba-aba.
Hendra kalut. Dalam perjalanan pulang dari kosan Erma, pikirannya berkecamuk. Hatinya yang semula berusaha untuk fokus pada Erma, kini malah berubah memikirkan Nelly. Ia tak bisa mengikhlaskan Nelly menjadi milik Zidan. Mungkin saat ini Nelly belum bersedia menjadi pendamping si ketua geng brutal tapi Zidan tak bisa ditebak. Sepak terjangnya dalam memprovokasi lawan untuk mendapatkan keinginannya tak perlu diragukan. Selain karena para pengikutnya yang banyak, harta kekayaan yang ia miliki mampu menutupi tindakan kekerasan yang pernah ia lakukan. Itu artinya bisa dipastikan tak lama lagi Nelly akan jatuh ke dalam pelukannya meski dengan rasa keterpaksaan.
Tak bisa menunggu lebih lama lagi dalam kekhawatiran, Hendra menepikan fortunernya lalu berhenti di pinggir jalan. Ia mengeluarkan gawai dari tas selempangnya lalu mencari nama Ay di layar. Ia lupa untuk mengubah panggilan kesayangan itu. Ay dari kata sayang.
"Assalamualaikum Nel."
"Wa'alaikumussalam. Ada apa, Dra?" Sedikit mengerutkan kening, Nelly tak menyangka Hendra akan meneleponnya.
"Aku...," Hendra bingung mencari topik pembicaraan. "Temanku mau ada acara. Dia tanya cateringmu." Tiba-tiba ide catering muncul begitu saja.
"Oh ya, terus?"
"Apa kita bisa ketemu? Aku mau lihat daftar menunya."
"Apa aku boleh minta nomor WA nya? Biar aku chat dia langsung." Nelly memberi saran.
"Oh anu... Dia agak pemalu. Dia bingung kalau bicara sendiri dan juga masih mau tanya harga. Khawatir gak jadi dan malu sama kamu, jadi dia minta tolong aku." Hendra mencari alasan yang dianggap logis.
"Oh gapapa sih kalau gak jadi. Namanya juga tanya-tanya. Aku gak masalah." Nelly menjelaskan. "Tapi siapa sih dia? Aku kenal gak?" Hampir sebagian besar teman-teman Hendra sudah Nelly kenal karena hubungan mereka yang tak singkat.
"Oh kamu gak kenal. Dia temannya teman kantorku." Hendra tak kehabisan alasan. "Jadi kapan aku bisa ketemu kamu?"
"Sekarang juga kamu ke rumah ya gapapa. Aku free."
"Oke, tunggu." Hendra lalu menutup teleponnya dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia ingin segera bertemu Nelly. Ia harus memastikan sesuatu.
Sesampainya di rumah mewah itu, Hendra tak perlu menekan bel. Nelly sudah menyambutnya di ruang tamu.
Nelly seperti biasa tampak cantik dengan jepit rambut kesayangannya. Padu padan celana jeans sebetis dan kaos polos berwarna ungu terlihat kontras dengan kulitnya yang kuning langsat. Nelly tetap sangat cantik meski berpakaian santai.
"Minumlah dulu." Nelly menyodorkan segelas teh Tong Tji hangat untuk Hendra. Nelly tahu betul, Hendra hanya mau meminum teh merk teh itu, tak mau yang lainnya.
"Ini daftar menu termasuk harga paketnya." Nelly menaruh buku daftar paket di atas meja. Hendra meraihnya dan pura-pura melihat dengan serius. Nelly memperhatikan Hendra yang berpakaian santai tapi aroma parfumnya sudah tidak begitu tajam. Wajahnya juga tidak begitu segar. Nelly menebak, Hendra masih pergi ke tempat lain sebelum mendatanginya.
"Kamu dari rumah langsung ke sini?" Tanya Nelly.
"Nggak. Aku masih ada urusan ke tempat lain tadi." Hendra tersenyum sebentar ke arah Nelly lalu kembali menunduk melihat deretan harga paket catering.
"Dari dek Erma?" Nelly penasaran.
"Iya." Hendra menjawab tanpa berpaling dari buku catering yang ia baca.
"Sepertinya kamu lagi sebel. Apa ada masalah?" Nelly sedikit memiringkan wajahnya, menunggu jawaban Hendra. Laki-laki itu tetap diam.
"Aku pikir kalau kamu sama dia gak akan tengkar, gak kayak sama aku." Nelly menghela nafas kasar. "Ada aja yang kita perdebatkan. Tapi kadang aku juga kangen sama momen itu."
"Erma keras kepala. Kami sering berdebat." Hendra menjelaskan meski Nelly tidak menanyakan.
"Mungkin kamu memang selalu ditakdirkan ketemu perempuan keras kepala seperti kami." Nelly tersenyum tipis. "Bukankah rasanya cukup menantang untuk ditaklukkan?"
"Aku gak tau. Aku cuma mengikuti skenario yang sudah dibuat. Aku terlanjur terlibat." Hendra menaruh buku catering di atas meja lalu menyesap teh hangat.
"Kamu masih punya pilihan untuk masa depanmu." Nelly mengingatkan.
"Tapi aku gak punya pilihan untuk memilih keluarga yang melahirkanku." Hendra bersandar pada sofa, kembali rileks seperti dulu saat dia masih bersama Nelly.
"Iya, aku tahu. Tapi kamu pun sadar, kamu akan membentuk keluargamu sendiri nanti, terlepas dari kakekmu setuju atau gak." Perkataan Nelly mulai terlihat jelas kemana arahnya.
"Terus aku harus gimana? Bukankah pilihanku juga gak mudah?"
"Tanyakan sama hatimu. Gimana caranya kamu bisa merasa nyaman. Kamu lebih tahu itu."
"Aku lagi gak nyaman. Aku lagi gak baik-baik saja. Pikiranku kacau, Nel." Hendra lalu duduk tegap dan menatap Nelly. "Apa kamu baik-baik saja? Apa kamu gak takut Zidan akan memaksa dan menyakitimu kalau kamu gak menuruti keinginannya?" Wajah Hendra mulai khawatir.
"Oh, terima kasih. Ternyata kamu masih peduli." Nelly tersenyum mengejek.
"Apa kamu berpikir aku gak peduli dan pura-pura tuli?" Nada suara Hendra mulai meninggi.
"Entahlah." Nelly menjawab sambil mengangkat kedua bahunya. "Aku hanya mulai percaya kalau gak ada yang tersisa untukku di hatimu."
Hendra tetap menatap Nelly dari ujung sofa. Hanya tersisa satu sekat sofa diantara mereka tapi Hendra merasa Nelly semakin jauh dari jangkauannya. Tak seperti malam itu saat Nelly nekat mendatanginya ke rumah di malam yang cukup larut. Apakah mungkin Nelly menyerah untuk mendapatkan Hendra kembali? Ataukah Hendra yang terlalu keras menolak perempuan itu hingga memutuskan untuk membentengi hatinya agar tak semakin terpuruk?
"Aku hanya gak bisa lupa dengan pengkhianatan kalian." Hendra menunduk, menyisir rambut dengan kedua tangannya yang bertumpu pada paha. Ia tetap dengan posisi itu selama beberapa detik.
"Aku... Aku memang salah, Dra. Sekali lagi aku minta maaf." Nelly menatap Hendra yang terlihat kembali frustasi. "Seandainya masih ada kesempatan untukku. Aku ingin memperbaiki semuanya."
"Kamu yakin bukan karena ingin mendapat perlindungan dari Zidan?" Hendra menoleh ke arah Nelly sambil tersenyum sinis.
"Oke, Dra. Kamu bebas berpikir apapun tentangku. Yang penting aku sudah jujur dengan hatiku." Nelly serius dengan ucapannya. "Ini juga bukan pertama kali kamu menolakku. Aku merasa memang keterlaluan ngarepin kamu untuk berpikiran baik tentangku. Sebaiknya aku memang menjaga hatiku biar gak tambah sakit."
Suasana hening. Masing-masing dari mereka sudah meluapkan isi hati.
"Aku pamit." Hendra berdiri dari sofa tanpa menoleh. Nelly tetap duduk mensedekapkan tangan.
"Dan aku harap kamu gak perlu khawatir lagi tentangku. Entah nanti aku bersama Zidan atau dengan yang lain, itu bukan urusanmu!" Nelly berbicara sama angkuhnya. Dia tidak menoleh ke arah Hendra.
"Jadi aku tegaskan ini sekali lagi biar kamu tahu, aku gak pingin berharap apapun lagi dari kamu." Tampak nada kemarahan dalam ucapan Nelly.
Nelly menghembuskan nafas dari mulutnya lalu menyandarkan punggungnya ke sofa. Seketika itu juga dia terkejut. Matanya membelalak lalu memejam, menikmati Hendra yang tiba-tiba mencium bibirnya. Nelly membalas. Dia terlalu rindu untuk mengabaikan sentuhan Hendra.
Hanya beberapa detik, Hendra melepaskan dirinya. Menatap mata Nelly.
"Maafkan aku sudah membuatmu bingung." Hendra berkata lembut. Ia membelai rambut Nelly yang terlepas dari jepit dan mengayun di pipinya. Ia mengaitkannya ke telinga gadis cantik itu. "Pikiranku kalut." Hendra menunduk, menghela nafas lalu berbalik dan meminum teh milik Nelly dalam posisi setengah berdiri.
Nelly merapikan rambutnya yang sedikit berantakan setelah kejadian yang baru saja ia alami. Ia memperbaiki posisi duduknya lalu ikut meminum teh yang sudah Hendra letakkan kembali di atas meja, berharap bisa menenangkan dirinya yang terkejut.
"Aku pulang." Hendra mencium pipi Nelly lalu pergi meninggalkan gadis itu dengan pikiran yang semakin kacau.
Bersambung...
Bondowoso, 2 April 2022
Komentar
Posting Komentar