Memilih Bahagia (Bagian 13)

"Syauqi Akmal. Ah beneran deh sesuai namamu, kerinduan yang sempurna," Erma berbicara sambil memandang foto Uki di tangannya, "aku kangen Uki! Kangeeenn!" Erma lalu menciumi foto itu bertubi-tubi sambil menghentak-hentakkan kaki di meja belajarnya.


"Hmm... kalau kangen ya telepon. Ngomong sama foto mana bisa denger," Desti mencebik. 


"Aku pake alasan apa ya, Des?" Erma serius meminta saran dari sahabatnya itu. 


"Bilang aja kangen pake banget!" Goda Desti. Langsung saja Erma melempar bantal guling ke arah Desti yang berlari menjauh. 


Tak berbeda jauh dengan Erma, dua hari sudah berlalu sejak pertemuannya dengan Erma, Uki merasa kembali merindukan gadis itu. Ia mencari cara untuk menemui Erma dengan alasan yang harus tampak alami. Lalu Uki menemukan sepasang sarung tangan milik Erma yang dulu tertinggal di kontrakannya. Ia pun langsung menghubungi Erma. 


Setelah sepakat untuk bertemu, Uki memacu motor maticnya ke kosan Erma. Sesampainya di sana, Erma sudah duduk dengan santai di teras kosan sambil membaca novel. 


Ucapan salam Uki mengagetkan gadis yang sengaja sedikit berhias untuk bertemu dengan laki-laki berusia dua puluh satu tahun itu. Ia menaruh buku di pangkuan dan mempersilakan Uki duduk di sampingnya, di sebuah bangku kayu panjang. Uki mensejajarkan kaki tak jauh dari Erma hingga ia bisa mencium aroma Miss Dior Blooming Bouquet yang dipakai sang gadis pujaan.


Uki tersenyum bahagia melihat Erma yang semakin cantik dan tampak segar meski matahari sedang terik-teriknya. Ia lalu menyerahkan paper bag berisi sarung tangan Erma dan sebuah kantong plastik berisi sekotak bolen keju.


"Oh, terima kasih." Erma tersenyum lebar melihat kotak kue itu lalu langsung membuka dan memakannya. 


"Tumben hari minggu gak pulang?" tanya Uki. 


"Aku lagi banyak tugas, kerja bareng teman-teman, kalau pulang khawatir gak selesai," jawabnya sambil mengunyah bolen keju, "kamu kok gak pulang?"


"Aku lagi males pulang, pingin nikmati minggu di kampus," Uki tersenyum ke arah Erma, "gak kencan sama tunangan?"


"Heiii... pertanyaan apa itu? Kayak lagi ngecek sesuatu," Erma dan Uki sama-sama tertawa. Lalu obrolan renyah mengalir begitu saja seolah tak pernah ada masalah sebelumnya. 


"Heh, anak bandel! Ini yang katanya sibuk nugas?!" suara keras terdengar dari pintu gerbang kosan. Sang pemilik suara lalu berjalan tergesa mendekati Erma dan Uki yang seketika itu langsung berdiri. 


"Bapak, Ibu?" Erma terkejut dengan kedatangan kedua orang tuanya. 


"Kenapa? Kaget? Bapak sama ibu datang karena katanya kamu sibuk ngerjakan tugas makanya gak bisa nemani Hendra ke acara nikahan temannya,"  bapak berbicara sambil melirik sinis pada Uki yang sedang tersenyum namun terkesan tertekan, "ternyata malah gini kelakuanmu."


"Bu, Pak," sapa Uki sambil mencium tangan kedua orang tua Erma. 


Ibu Erma tersenyum tapi seperti menahan kekhawatiran lalu melirik ke arah suaminya yang hanya mengizinkan tangannya dicium oleh Uki dengan ekspresi kesal. 


"Erma memang beneran banyak tugas. Terus maksud Bapak barusan bilang kelakuan Erma begini tuh, gimana? Emang Erma kenapa?" tanya Erma kepada bapak dengan sinis, "kalau maksudnya karena ada Uki, terus kenapa? Masa gak boleh ketemu Uki? Dia ke sini cuma nganterin sarung tangan Erma yang ketinggalan kok," Erma berbicara ketus tanpa bersalaman kepada bapak ibunya. 


"Husss... Erma," kata sang ibu setengah berbisik dan mencolek lengan putri semata wayangnya. 


"Mohon maaf, Pak, Bu, saya pamit pulang dulu," Uki tersenyum lalu membungkukkan tubuhnya, "assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam, Mas. Hati-hati di jalan," ibu tersenyum, berusaha ramah. 


Ketiga orang itu akhirnya duduk bersama tanpa sepatah kata selama lebih dari tiga puluh detik. Setelah mengatur nafas, bapak akhirnya berbicara. 


"Kamu itu sudah punya tunangan, Ma. Kalau sampai Hendra tahu kejadian ini, kan kalian bisa tengkar," bapak berusaha menahan emosinya dengan berbicara lebih lembut. 


"Ya enak dong, biar batal pertunangannya!" Erma merespon sarkas. 


"Loh anak ini kok tambah gak sopan sama orang tua?! " mata bapak terbelalak, pria itu kembali murka. 


"Nak, kok gitu sama bapak?" Ibu memandang Erma heran. 


Erma hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "kan sudah tahu kalau Erma gak suka sama mas Hendra, masih aja dipaksa," netranya mulai basah, lalu kristal-kristal bening mengalir tak terbendung di kedua pipinya, "bapak ibu gak tau sih tujuan mas Hendra mau nikah sama Erma."


"Maksudmu apa? Ya karena dia suka sama kamu jadi pingin nikah sama kamu," bapak berbicara sambil menunjuk ke arah Erma, "terus apa coba yang buat kamu gak suka sama Hendra? Orangnya ganteng, gagah, pekerjaannya bagus, keluarganya baik. Apa lagi masalahmu, hah?!"


Bapak emosi. Dia tak lagi bisa duduk berlama-lama di dekat Erma. Dia khawatir tak dapat mengendalikan diri. Bapak beranjak dari kursinya, "ayo pulang, Bu!"


"Bapak sebenarnya gak tahu atau pura-pura gak tau sih?" Erma berbicara dengan suara bergetar, "orang-orang pada gosipin kakek mas Hendra yang pingin besanan sama bapak karena ngincar tanah yang gak mau bapak jual!"


"Ngomong apa kamu?" tatapan penuh amarah bapak kembali mengarah pada Erma, "kok melantur!"


"Nak, siapa yang ngomong gitu sama Erma?" ibu menggamit bahu Erma.


Erma sesenggukan sambil menceritakan apa yang tak sengaja ia dengar di dapur saat acara pertunangan. Beberapa orang tetangga yang membantu di pesta itu berbicara lirih tentang keinginan kakek Hendra untuk menguasai tanah bapak Erma. Karena sebelumnya bapak Erma tak setuju untuk menjual tanah seluas dua hektar yang tepat berada di sebelah kandang ayam petelur kakek Hendra, maka skenario pertunangan pun dilancarkan. Erma juga yakin akan kebenarannya karena yang berbicara adalah bu Darsih, salah satu buruh tani yang bekerja di sawah bapak Hendra. Selain itu, Erma tak pernah meragukan rasa cinta Hendra kepada Nelly yang masih sangat terlihat jelas. Setiap kali ia membahas tentang Nelly, amarah Hendra tersulut, serasa ada sesuatu yang tak mampu ia ikhlaskan.


"Mengapa sampai ada gosip seperti itu dan bapak gak tau?" bapak menoleh ke arah ibu seolah meminta jawaban, "apa ibu dengar tentang ini sebelumnya?"


Ibu salah tingkah, duduknya mulai gelisah, ia juga menghela nafas. Beberapa detik kemudian, wanita empat puluh lima tahun itu menjawab, "ibu sebenarnya juga sudah lama dengar itu, Pak."


"Loh, terus kenapa ibu gak cerita ke bapak?


Ibu tak dapat menjawab pertanyaan suaminya. Ia hanya bisa tertunduk, sadar akan kesalahannya. 


"Rasanya kok cukup masuk akal," bapak mengepalkan tangannya, "bagaimana kalau semuanya benar? Kan kasihan anak kita, Bu. Kalau bapak tahu kan setidaknya bisa memastikan kebenarannya. Memang ibu punya rencana sampai kapan mau menutupi semua ini dari bapak?" Laki-laki itu memandang penuh kekecewaan kepada istrinya. 


"Maafin ibu ya, Pak," ibu menggenggam tangan bapak dengan penuh penyesalan, "ibu memang salah."


"Sudah... sudah. Yang penting sekarang bapak sudah tahu. Nanti bapak mau minta tolong Sodiq dan kang Akmal untuk cari tahu," bapak menepuk-nepuk tangan ibu, "sekarang ayo kita pulang. Bapak pingin tahu kebenarannya segera."


Bapak dan ibu memeluk anak semata wayangnya dengan penuh kasih. Ibu juga menghapus air mata Erma yang sedari tadi mengalir deras. Tak lama kemudian, bapak ibu berpamitan pulang. Bapak bersungguh-sungguh ingin menyelesaikan masalah ini segera. 


Bondowoso, 9 April 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga