Memilih Bahagia (Bagian 14)

Seorang laki-laki berpakaian casual tengah duduk di kursi kemudi. Rambutnya yang tersisir rapi ke arah kanan dan sorot mata setajam elang dengan alis tebal memperkuat karakternya yang tegas, kuat, berani dan dingin. 


Laki-laki itu hanya memarkirkan mobil sport mewahnya di seberang jalan sebuah rumah bergaya Eropa. Netra kecokelatannya tak lepas memandang rumah berpilar raksasa, berharap sang pemilik rumah keluar halaman sekedar menghirup udara segar. Ia tak bernyali besar untuk datang berkunjung dan mengetuk pintu. Ia terlalu malu dan takut meski faktanya banyak orang yang mengenalnya sebagai sosok yang menakutkan. 


Sudah lebih dari sepuluh menit ia berada di sana tapi Zidan masih tak mampu bergerak satu sentipun mendekati pintu rumah Nelly, gadis pujaan hatinya. Kegiatan yang bagi anak buahnya itu membuang-buang waktu karena setiap hari Zidan melakukannya hingga bisa satu jam, namun pemikiran itu hanya dipendam oleh para anggota geng Zidan. Mereka tak berani mengusik hati sang boss yang terkenal cukup pemarah bila ada yang protes atau membantah perintah. Nyatanya, hati Zidan selalu melankolis jika menyangkut Nelly. 


"Boss, Rudi kalah taruhan. Dia ngamuk di tempat kita. Kami harus bagaimana?" Suara seseorang di ujung telepon menjeda waktu santainya. 


"Tahan dia, tunggu aku datang! Pe******g seperti dia gak bisa dibiarkan terus. Sudah dua kali dia buat keributan di tempat kita." Zidan marah. Meski enggan pergi karena belum melihat Nelly, Zidan terpaksa memacu kencang mobil dengan logo kuda jingkraknya. Ia harus segera menyelesaikan sendiri keributan di tempat perjudian privat yang ia miliki. 


Dalam perjalanan, Zidan terus memikirkan Nelly. Sudah dua hari sejak kemarin, ia tak melihat Nelly meski cukup lama ia berdiam diri di seberang rumah gadis berusia dua puluh empat tahun itu. Ia sangat rindu. 


Tak ada yang tahu bagaimana awalnya Zidan jatuh hati pada Nelly yang berkulit putih bersih seperti ibunya yang berdarah Tionghoa. Bukan karena wajah oriental dan mata bulat dengan bulu mata tebal yang mampu membuat semua orang terpukau tapi karena keberanian Nelly menolong Zidan dari para perisak di sekolah dasar dulu.


Bagi Zidan, Nelly adalah pahlawan. Saat empat orang senior mendorong Zidan kecil ke dinding di belakang sekolah, memaksa Zidan menyerahkan semua uang saku yang ia punya, Nelly datang. 


Gadis yang terkenal karena prestasi akademik di sekolah itu menegur para perisak dan mengancam akan melaporkan mereka ke guru atas tindakan yang mereka lakukan. Para pengganggu itu mundur. Mereka tak mau mengambil resiko melawan gadis pintar yang pasti mendapat banyak dukungan dari para guru. Bocah sekolah dasar tidaklah seberani itu untuk melawan guru. 


Sejak saat itulah rasa kagum dalam hati Zidan semakin bertambah. Ia terus saja memandang Nelly meski dari kejauhan. Ia selalu ingin dekat dengan Nelly tapi tak ingin terlihat. Ia hanya berupaya dekat dengan bersekolah di sekolah yang sama dari SMP hingga SMK. Ia mengagumi dalam diam, tak berani bertegur sapa apalagi mengajak berkencan.


"Heh, Rud! Apa maumu?" Zidan menarik krah kemeja Rudi yang sudah terlepas beberapa kancingnya. Laki-laki tambun itu telah babak belur dihajar anak buah Zidan. Sedikit darah mengalir di sudut bibir dan pelipisnya. 


"Maaf, Dan. Aku emosi," jawab Rudi sambil memiringkan wajahnya. Ia tak berani menatap mata Zidan yang memerah dipenuhi kemarahan. 


"Berani main, berani kalah!" Zidan belum melepaskan cengkraman tangannya, "awas saja kalau kau berani berulah lagi! Bukan cuma kancing bajumu yang akan terlepas, tulang-tulangmu juga aku pastikan akan patah. Camkan itu!"


Zidan melepaskan Rudi. Laki-laki berkulit gelap itu bernafas kasar. Ada kelegaan di sana. Kali ini ia benar-benar selamat meski babak belur. Ia masih sanggup berjalan ke luar bar yang cukup terkenal di kotanya itu. Tanpa berpikir panjang, khawatir Zidan berubah pikiran, segera ia naiki ojek online dengan sisa uang sepuluh ribu yang ia punya. Motor maticnya ia tinggalkan di gedung bergaya futuristik itu setelah kalah berjudi.


"Apa ada yang rusak?" tanya  Zidan. 


"Gak ada, Boss. Cuma satu gelas pecah karena tadi dia mendobrak meja dan gelasnya jatuh," jawab salah satu anak buah Zidan. 


"Bereskan itu. Juga, jangan izinkan Rudi datang lagi ke tempat ini sampai tiga bulan ke depan. Biarkan saja dia cari tempat lain untuk bermain," perintah Zidan. Semua anak buahnya mengangguk tanda mengerti. 


Zidan memasuki ruangan pribadinya di lantai dua bar itu. Ruangan yang didominasi dinding kaca berpotongan abstrak, furnitur bernuansa putih dan lampu-lampu kristal berkilau membuatnya tampak cerah dan mewah. Sungguh berbeda dengan ruangan yang berada di lantai satu. Di ruangan ini juga terdapat wardrobe. Tak jarang Zidan berganti outfit di sana jika ia tak sempat pulang ke rumah. 


"Nelly, apakah kamu akan datang hari ini?" Zidan berbicara di depan kaca sambil memperbaiki dasinya. Ia tampak gagah dan mempesona dengan jas maroon yang dikenakannya. "Tenang, Zidan. Kamu bisa mendekatinya hari ini," serunya menyemangati diri sendiri. 


Di pesta pernikahan Andita, Nelly tampak memukau. Gaun panjang lengan balon berwarna merah menyala tampak kontras dengan warna kulitnya yang seputih susu. Make up tipis dengan blush on berwarna merah muda dan lipstik semerah ceri membuat ia terlihat segar. Tak ayal, banyak mata tertuju padanya, termasuk sang mantan kekasih, Hendra. 


Laki-laki itu sudah datang dan duduk santai menikmati cocktail ketika Nelly hadir seorang diri. Ada rasa bangga dalam dirinya bahwa gadis secantik itu tak bisa melupakan dirinya. Tapi di lain pihak, ia tak mampu meraih Nelly karena hubungan mereka semakin menjauh setelah pertunangannya dengan Erma.


Hendra mencuri kesempatan selagi ia hanya datang ke pesta itu seorang diri. 


"Datang sendiri, Nel?" Hendra mendekat, menyapa Nelly yang tak menyadari kehadirannya. 


"Oh, Hendra?" Nelly terkejut, "ah iya, aku sendiri," Nelly menutupi kecanggungannya bertemu Hendra dengan mengaitkan rambutnya yang sebagian terjuntai di kening. 


"Aku juga sendiri," Hendra berbicara meski Nelly tidak bertanya. 


"Aku pikir kamu gak akan datang karena akhir-akhir ini sering sibuk," sindir Nelly yang sudah menunggu telepon dari Hendra lebih dari empat hari setelah kejadian mesra itu. 


"Iya, aku memang lagi banyak kerjaan. Tapi masih bisa lah hari minggu gini datang ke acara nikahan teman," jawabnya sambil mengambil segelas jus jeruk di sebelah Nelly, "kamu belum berubah, masih suka martabak telur," mata Hendra melihat isi piring Nelly. 


Nelly tersenyum,"tentang selera, aku memang gak gampang berubah," senyum tipis tersungging dari bibirnya yang mungil. 


Hendra mengerti maksud Nelly. Perasaan Nelly padanya juga belum berubah. Gadis itu masih saja mencintainya. 


"Aku minta maaf belum bisa menghubungimu lagi setelah pertemuan terakhir kita," Hendra membangkitkan lagi memori romantis beberapa hari yang lalu. 


Wajah Nelly memerah, ia tersipu mengingat kejadian itu. 


"Gapapa kok. Aku tahu kamu sibuk," Nelly memaklumi. 


"Nanti malam, apa kamu ada acara?" Hendra bertanya dengan yakin Nelly akan menerima ajakannya, "misal kamu gak sibuk, kita makan jagung bakar di tempat biasa yuk."


"Yap, aku gak ada acara nanti," Nelly tersenyum bahagia mendengar ajakan Hendra, "nanti jemput aku ya."


Hendra dan Nelly tampak kembali akrab. Rona bahagia terpancar jelas di wajah keduanya. 


Di sudut kanan ruangan, ada seseorang yang memperhatikan mereka dari kejauhan. Ia mengepalkan tangannya, hingga jari jemarinya memutih menunjukkan emosi yang tertahan. Zidan, laki-laki yang berniat akan mendekati Nelly ini tak menyangka gadis pujaannya kembali akrab dengan sang mantan kekasih. Ia pikir gosip yang ia sebarkan untuk melamar Nelly minggu depan akan mampu menangkis para pria yang ingin menggoda Nelly. Nyatanya itu tak berlaku bagi Hendra. Meski ia telah bertunangan dengan gadis lain, ia masih goyah dan kembali bersikap mesra pada Nelly. 


Zidan tak akan tinggal diam. Hendra harus tahu posisinya sebagai mantan kekasih yang tak boleh mendua hati. Dan Zidan tak akan membiarkan gadis incarannya sakit hati dengan memilih laki-laki yang salah. 


Bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga