Memilih Bahagia (Bagian 15)
Bulan sabit dan gugusan bintang menghiasi langit setelah sempat tertutup mendung dan gerimis magrib tadi. Lima menit sudah Hendra dan Nelly berbincang sambil menunggu jagung bakar yang mereka pesan.
Hawa dingin daerah pegunungan membuat Nelly semakin merapatkan jaketnya. Sesekali ia meniup dan menggosok telapak tangannya agar lebih hangat.
"Mungkin karena habis hujan ya, jadi tambah dingin." Hendra memperhatikan Nelly yang kedinginan.
"Mungkin." Nelly tersenyum.
"Alhamdulillah, akhirnya," Hendra tersenyum lebar saat jagung bakar sudah tersedia di meja kayu di hadapannya.
Ia mengambil piring yang berisi lima jagung bakar itu lalu duduk mendekati Nelly. Di bangku kayu panjang itu hanya ada mereka berdua. Sedangkan beberapa bangku panjang yang lain telah diisi oleh beberapa orang yang beramai-ramai duduk menikmati jagung bakar bersama.
Dari kedai jagung ini, pemandangan kota dengan lampu-lampu yang berkilauan tampak memanjakan mata. Jagung bakar dan kopi hitam juga merupakan perpaduan yang pas untuk menikmati malam yang dingin. Maka wajar saja banyak pengunjung yang rela datang belasan kilometer dari kota untuk menikmatinya.
"Besok lembur lagi ya, Ndra? Kan akhir bulan," Tanya Nelly sambil mengunyah jagung.
"Iya. Kayaknya besok malam deh pulangnya. Magrib gak mungkin selesai," Hendra tersenyum ke arah Nelly, "biasanya dulu kalau aku lembur, kamu datang bawa makan malam ke kantorku. Kita sempatkan makan bareng meski cuma sepuluh menit." Hendra tetap memandang Nelly, menunggu reaksi gadis itu.
"Iya," Nelly menjawab tanpa menoleh. Ia terus saja memperhatikan jagung yang akan dia gigit, "lha kok aku sabar ya datang ke kantormu yang jauh itu. Mana ada di perbatasan kota lagi." Nelly dan Hendra sama-sama terkekeh.
"Cinta ya gitu itu ya," Hendra memancing Nelly untuk menyatakan rasa cintanya lagi.
"Hmmm..."
"Kok cuma hmmm...?" Hendra mengerutkan kening.
"Bingung mau jawab apa," Nelly tetap menatap lurus ke hamparan lampu kota di bawah sana.
Hendra menyentuh dagu Nelly dan memalingkan wajah cantik itu ke arahnya, "balikan yuk," Kata Hendra serius.
Nelly menatap manik mata Hendra di balik kaca mata minusnya. Meski cahaya lampu tak begitu terang tapi jelas terlihat ada ketulusan dan rindu di sana. Rindu yang mungkin sudah lama terpendam dan Hendra sembunyikan rapat-rapat. Ia tak lagi bisa berpura-pura abai pada Nelly yang sering hadir di mimpinya. Sudah berhari-hari Hendra mengumpulkan keberanian untuk mengakui perasaannya ini. Perasaan rindu yang terpancar dari matanya. Rindu yang sempat ketakutan untuk menampakkan diri.
"Nel?" Hendra menunggu jawaban Nelly. Ia tak lagi takut sakit hati.
Penjelasan Robby beberapa waktu yang lalu dan sikap Nelly sudah cukup membuktikan bahwa cinta Nelly memang masih untuk Hendra. Selain itu, ia tak ingin Zidan mendekati Nelly. Lalu tentang kakeknya, biarlah itu dipikirkan nanti. Hendra sudah siap dengan konsekuensi yang akan ia hadapi.
Nelly menggenggam tangan Hendra yang entah sudah berapa detik menyentuh dagunya. Nelly masih tak menyangka Hendra akan mengatakan hal semanis itu padanya. Kata-kata manis yang sudah ia tunggu sejak lama.
"Kamu serius?" Mata bulat yang Nelly warisi dari sang ayah tak berkedip menatap Hendra.
"Aku serius," Hendra meremas tangan Nelly. Ia juga menatap Nelly, lekat.
"Dek Erma gimana?" Nelly melepaskan tangan Hendra lalu kembali menatap deretan lampu kota di bawah sana.
"Erma cuma menganggap aku teman, gak lebih. Dia gak pernah mencintaiku. Dia sudah lama punya pacar dan harus putus gara-gara hubungan yang terpaksa ini. Dengar," Hendra kembali menggenggam tangan Nelly dan membuat gadis itu menoleh padanya, "kita mulai lagi dari awal. Tentang pertunanganku, aku minta waktu sama kamu untuk menyelesaikannya. Kalau cuma sama Erma, gampang. Dia aku telepon sekarang juga dan minta putus tunangan pasti dia berjingkrak bahagia. Tapi keluarga kami, aku harus jelaskan perlahan. Jadi, apa kamu mau nunggu aku?" Hendra menaruh harapan besar agar Nelly bersabar menunggunya.
Nelly tersenyum, "iya, aku percaya kamu bisa mengatasinya dengan baik. Aku bisa sabar dengan prosesnya."
"Makasih Nel," Hendra mencium kening gadis itu, "makasih mau balik lagi sama aku," ia menyibak rambut Nelly yang tertiup angin malam.
"Makasih juga, Ndra. Kamu sudah kasih aku kesempatan kedua," Rona bahagia jelas terpancar dari wajah Nelly yang merona.
Tanpa disadari, ada sepasang mata yang memperhatikan kemesraan mereka berdua. Ia mengabadikan momen yang masih belum siap untuk dinyatakan dengan lantang kepada dunia.
Bersambung...
Di bawah bulan separuh, 24 April 2022
Komentar
Posting Komentar