Lelaki Pengayuh Sepeda

Khairul turun dari sepeda angin tua. Dengan kaki pincangnya, ia bergegas menuju sebuah kelas yang terdengar sangat riuh. Rupanya kelas belum dimulai. Beberapa murid berlarian, bercanda atau hanya berbincang santai. Guru mereka belum tampak hadir di kelas karena jam belum menyentuh angka tujuh. 

Khairul melongok ke dalam kelas. Ia mencari sosok manis berambut panjang sepinggang. 

"Sih... Darsih," panggilnya saat melihat seorang gadis duduk di deretan bangku tengah. Ia lalu mengacungkan payung yang ia bawa. 

Gadis berusia sembilan tahun itupun bangkit dari kursinya, menghampiri lelaki yang tampak lebih tua dari usia sebenarnya. 

"Ngapain sih ke sini?" Wajah gadis itu cemberut, tanda tak suka.

"Cuma mau nganterin payung. Tadi kamu lupa gak bawa," lelaki itu tersenyum melihat anak gadisnya yang tumbuh cantik seperti sang istri. 

Darsih menyentak payung yang dipegang Khairul lalu segera pergi, kembali ke tempat duduknya semula. Lelaki dengan kaki panjang sebelah setelah kecelakaan yang dialaminya ketika kecil itu hanya tersenyum. Ia bangga pada Darsih yang selalu menjadi bintang kelas meski sang anak merasa malu memiliki ayah seperti dirinya. 

Khairul kembali menaiki sepeda angin tua. Tanpa ia tahu, Darsih berdiri dari kursinya, mengintipnya dari jendela kelas. Ada rasa iba dalam hati Darsih melihat sang ayah menerobos hujan dengan mantel plastik seharga sepuluh ribu yang mulai robek di beberapa sisi. 

Khairul harus mengayuh sepeda sejauh dua kilometer menuju sebuah swalayan. Ia menjadi juru parkir di sana. Gaya hidup sang istri yang suka berbelanja pakaian dan tas setiap bulan, membuat gaji Khairul yang sebenarnya cukup jika ia sisihkan untuk membeli motor, harus ia ikhlaskan demi menuruti gaya hedonisme sang istri. 

Hujan semakin deras mengguyur di pagi menjelang pukul tujuh. Lalu lintas semakin ramai dipenuhi para pekerja dan murid sekolah yang berkejaran dengan waktu. Beberapa motor tergelincir karena aspal yang licin namun mereka memaksa melaju dengan kecepatan tinggi. 

Braakkkkk!!! 

Sebuah sepeda motor tergelincir, jatuh di garis tengah jalan raya. Pengemudi bis yang akan melintas terkejut dan panik. Spontan ia menghindar dengan membanting stir ke arah kiri. Nahas, ia malah menyenggol pengendara sepeda angin.

Khairul ambruk bersama sepeda tuanya ke arah kiri. Kepalanya membentur pinggiran trotoar. Darah mengucur deras dari kepala bagian belakang serta hidung, telinga dan mulutnya. Matanya terpejam namun entah mengapa ia melihat sosok tampan menyapanya. Suaranya lembut, tatapannya menenangkan hingga ia tersenyum sebelum nafas terakhirnya.

Di bawah langit gerimis, 1 Juni 2022

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga