Memilih Bahagia (Bagian 16)

Zidan mengerutkan keningnya saat ia menerima kiriman beberapa foto di gawainya. Tak terasa tangan kanannya mengepal kuat, membuat jari-jemarinya memutih. Pesan dari anak buahnya yang mengikuti Nelly dan Hendra membuat ia benar-benar kesal. 


"Oh jadi mereka balikan?" Zidan melempar gawainya ke atas meja, "oke, mari kita lihat berapa lama kali ini kalian akan bersama." Kemarahan terlihat jelas di wajah Zidan saat ini. 


Keesokan harinya, Fina, sekretaris Zidan menghubungi Nelly untuk urusan bisnis. Perusahaan Zidan, Gemilang Group yang mulai merangkak naik di bidang ekspedisi dan retail akan membuka lima cabang baru di kota yang berbeda. Acara makan bersama rekan-rekan bisnis akan diadakan di villa area kebun kopi milik keluarga Zidan. Tentu saja, catering Nelly lah yang ia pilih untuk acara istimewa ini. 


"Jadi untuk menu dan sebagainya nanti pak Zidan sendiri yang akan menyampaikan ke bu Nelly," kata Fina di ujung telepon. 


"Oh begitu." Nelly heran kenapa tidak langsung sekretaris Zidan saja yang menyampaikan detailnya? Kenapa juga Zidan masih akan menemuinya sore nanti? Nelly mulai merasa ada gelagat yang mencurigakan. 


"Baiklah, Bu. Jam empat sore nanti pak Zidan akan menemui Ibu setelah pulang kantor. Terima kasih, Bu," sang sekretaris mengakhiri panggilan dengan sopan setelah Nelly menjawab salamnya.


Nelly meluruskan pikirannya. Ini murni bisnis. Tidak mungkin Zidan datang hanya untuk melamarnya seperti berita yang entah dari mana sempat menebar ketakutan di dalam hati Nelly. Ia benar-benar tidak mengenal Zidan secara pribadi. Ia hanya tahu Zidan memiliki geng yang cukup brutal dari desas-desus yang beredar meski ia tak pernah tahu fakta sebenarnya. 


Sore menjelang, Nelly mondar-mandir di dekat jendela lantai dua rumahnya sambil sesekali melihat ke arah jalan. Belum ada mobil Ferrari merah yang sempat dua kali ia lihat parkir di seberang jalan rumahnya beberapa hari yang lalu. Ia tahu itu Zidan sehingga ia sengaja tidak keluar rumah agar tak berpapasan dengannya. 


Jam empat kurang tiga menit, sebuah mobil yang entah Nelly tunggu atau tak diharapkan muncul itu akhirnya datang. Seorang laki-laki dengan tinggi seratus delapan puluh lima sentimeter memakai kaos polo putih berkerah dan celana kain berwarna gelap turun dari mobil sport itu. Sepatu adidas putih yang ia kenakan menunjukkan ia sangat peduli pada penampilan. Ia melepas kacamata hitamnya, hingga terlihatlah tulang hidungnya yang tinggi, hidungnya mancung. Wajahnya bersih, tak ada kumis maupun jenggot, membuat belahan dagunya yang dalam terlihat jelas. Alis dan bulu mata yang tebal membuat mata bermanik kecokelatan itu terlihat semakin menarik. Kulit sawo matang khas orang Indonesia yang ia miliki membuatnya tampak gagah. 


Laki-laki yang untuk pertama kalinya memberanikan diri untuk mendekati Nelly itu berjalan ke arah pintu gerbang. 


Deg! Jantung Nelly berdebar kencang. 


"Masa iya ketua geng brutal secakep itu? Dia rapi banget," tak terasa kalimat kekaguman lolos dari bibir Nelly yang tipis, "astaghfirullah!" Nelly langsung menampar pelan pipi kanannya. 


Tak lama kemudian bel berbunyi. Asisten rumah tangga Nelly naik ke lantai dua dan menyampaikan kepada Nelly bahwa ada tamu. Nelly yang sengaja tak menunggu Zidan di ruang tamu lalu turun dan menyapa Zidan dengan ramah. 


"Assalamu'alaikum Nel," Zidan berdiri dan menyapa Nelly yang turun menghampirnya. 


Nelly tersenyum, "wa'alaikumussalam warahmatullah. Silakan duduk."


"Terima kasih sudah mau ketemu aku," Zidan tersenyum. 


"Oh iya," mata Nelly belum berhenti mengagumi ciptaan Tuhan yang terlihat semakin indah dalam jarak dekat. 


"Seperti yang sekretarisku sampaikan tadi, aku sendiri yang akan menyampaikan konsep acaranya," Zidan berbicara santai tapi tetap terlihat berwibawa. Ia benar-benar memiliki kharisma seorang pemimpin, "jadi acaranya di luar ruangan, garden party."


"Oh gitu," Nelly lalu menyodorkan buku menu berdasarkan tema yang Zidan inginkan, "ini pilihan menunya. Daging yang kami hidangkan adalah yang bermutu baik jadi harga seusai dengan kualitasnya."


"I know, makanya aku pilih kamu," Zidan tersenyum. 


"Hah?"


"Maksudku pilih cateringmu," Zidan meralat kata-katanya. 


Nelly tersenyum kikuk, "jadi berapa jumlah tamu yang akan hadir, Pak?" 


"Hum? Panggil aku Zidan saja. Kita seangkatan kan?" Zidan mengingatkan. 


"Oh iya, Zidan." Faktanya Nelly merasa canggung karena meski mereka seangkatan dan satu sekolah, Nelly tidak pernah berbincang dengan Zidan semasa sekolah, itu yang dia ingat. 


Dan perbincangan pun terus berlanjut selama tiga puluh menit. Mereka benar-benar membahas bisnis, tidak ada pembahasan lain di luar itu seperti yang Nelly khawatirkan. 


Di tempat yang berbeda, Erma menghubungi Uki sambil meletakkan ranselnya di atas meja belajar. Tak lama, telepon itupun diangkat. 


"Hallo," suara seorang perempuan di ujung telepon. 


Erma mengernyitkan dahi, "hallo, Uki?" Erma menjauhkan gawai dari telinganya, mengecek nama di layar. Benar, nama yang terpampang di layar adalah Uki, tapi kenapa perempuan yang berbicara? Siapa dia? 


"Maaf, Mbak. HP Uki tertukar dengan HP saya."


"Kok bisa? Mbak siapa?" Erma masih saja mengernyitkan dahi. 


Rasa cemburu mulai muncul di hati Erma. Pantas saja saat pelepasan mahasiswa KKN tadi Erma tidak melihat Uki. Mungkin saja Uki bolos karena sibuk berkencan. 


"Saya temannya."


"Teman? siapa sih?" Erma mulai gemas. 


Uki jarang bercerita tentang teman perempuan karena di kelasnya hanya ada lima perempuan. Erma mengenal mereka semua sekaligus hafal dengan suara mereka. Gadis di ujung telepon ini benar-benar asing di telinga Erma. 


"Saya teman KKN nya. Pas ngumpul tadi kami duduk bersebelahan. Karena model HP dan warnanya sama persis, jadi tertukar," gadis itu dengan detail menjelaskan karena Erma tampak sangat penasaran, "kosan Uki dimana ya, Mbak?"


"Kenapa tanya kosan?" kecemburuan Erma semakin tampak. 


"Saya mau nukar HP. Saya udah telepon bolak-balik tapi gak diangkat." Gadis itupun merasakan nada cemburu dari intonasi Erma. 


Ia pun mulai bertanya-tanya, apa mungkin Erma ini adalah kekasih Uki? Wajar saja, laki-laki tampan mana mungkin tidak punya pasangan, pikirnya. Padahal ia sudah tertarik pada Uki yang terlihat manis dan berkharisma hingga dipilih menjadi koordinator kelompok. 


"Coba di telepon aja lagi, Mbak. Mungkin tadi masih di jalan," sahut Erma yang merahasiakan alamat kos Uki. Ia khawatir gadis itu akan sering mendatangi Uki jika tahu alamatnya. 


Sambungan telepon pun diputus. Gadis itu tersenyum miring. Seperti apa sih kekasih Uki? Ia menjadi penasaran. Wajah di foto profil memang terlihat manis. Tapi gadis itu tak kalah mempesona.


Poppy, gadis berambut sebahu yang sedikit bergelombang itu kembali menelepon Uki. Kali ini orang yang dituju menerima panggilannya. 


"Hallo. Maaf, sepertinya HP saya tertukar. Pemilik HP ini...," belum selesai Uki berbicara, Poppy langsung menjawab. 


"Iya, ini aku Poppy. Teman KKN mu tadi. HP kita tertukar. Maafin ya."


"Oh maaf, aku baru sadar nih. Kosanmu dimana? Biar aku antar HP mu."


"Rumahku di jalan Imam Bonjol," sahut gadis itu mantab. Ia senang akhirnya akan bertemu Uki lagi. 


"Oke, aku ke sana sebentar lagi ya. Kebetulan aku lagi di jalan Gadjah Mada," kata Uki sambil meraih helmnya di parkiran depan pertokoan. Setelah Poppy memberi alamat lengkap, Uki langsung menuju rumah yang dimaksud.


Sesampainya di rumah berlantai dua itu, Uki sudah disambut Poppy yang menunggunya di pintu pagar. 


"Hai," sapa Uki dengan senyumnya yang manis, "untung kamu nunggu di depan, aku agak bingung tadi, banyak rumah berlantai dua."


"Iya, dan catnya juga banyak yang sama, biru. Warga sini suka warna biru, kayak bajumu," kata Poppy sambil menunjuk kaos yang dipakai Uki. Mereka pun tertawa bersama. 


"Oke dah, aku langsung pulang ya," Uki berpamitan setelah menukar HP nya. 


"Loh tak buatin teh dulu atau jus jeruk gitu. Panas gini loh, masa langsung pulang?" Poppy berbicara sambil memicingkan matanya karena matahari bersinar begitu terik. 


"Lain kali aja. Aku masih mau packing barang untuk besok."


"Ok deh, sampai ketemu besok ya," gadis dengan tahi lalat di sudut kanan bibirnya itu tersenyum manis. Ia tak sabar menunggu besok.


Besok adalah hari pertama mereka akan melaksanakan KKN. Sangat menyenangkan pastinya, ia bisa bertemu Uki setiap hari, menikmati senyumnya setiap pagi dan tinggal seatap dengannya selama empat puluh hari.


Bersambung... 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga