Bahagia dengan Cara yang Berbeda
Sofi mengusap lembut perutnya yang mulai membesar. Usia kandungan delapan belas minggu masih sering menyiksa paginya dengan mual segala jenis aroma.
"Kamu gak mandi?" tanya Kania yang mengunjungi Sofi di akhir pekan.
"Jam segini sabun itu bikin aku enek. Nanti setelah zuhur, baru deh kerasa harum."
"Kamu aneh!" Kania berdecak heran.
"Sama anehnya dengan pernikahanku. Aku capek," Sofi terus saja mengelus perut buncitnya. Ia menatap vas bunga di hadapannya dengan pandangan kosong, "Agung gak berubah. Dia gak mau kerja. Sukanya main game online sepanjang hari. Aku nyesel maksa dia bertanggung jawab dengan janin ini." Air mata mulai menuruni pipinya yang dulu mulus.
"Terus kamu maunya gimana?" Kania duduk mendekat sambil menyentuh telapak tangan Sofi, "kamu mau bayimu gak punya ayah?"
"Iya. Itu lebih baik!" Isak tangis Sofi semakin tak terbendung.
"Terus gimana caramu merawatnya seorang diri?"
"Aku pikirkan nanti saja caranya. Mama papa sudah gak mau nerima aku. Di sini mertuaku juga bersikap ketus seolah aku benalu yang menyesatkan anak semata wayangnya yang manja itu!" Sofi meremas tisu yang tadi ia gunakan untuk menyeka air mata, "aku bisa pergi ke Tegal dan tinggal di desa sama nenek. Dia selalu meneleponku setiap hari, menanyakan keadaanku."
Kania menghela nafas. Ia iba pada sahabatnya yang terpaut tujuh tahun lebih muda darinya. Ia tak sekuat Sofi yang tetap memilih tak mengakhiri hidup meski masalah menggempur setiap hari.
Inilah alasan Kania memilih sendiri. Hidup tanpa pernikahan membuatnya bebas berkarir tanpa melibatkan hati. Ia tak siap dan tak sanggup berkomitmen. Pernikahan baginya terlalu banyak mengundang masalah.
Perceraian orang tua Kania saat ia masih balita, tantenya yang selalu hidup tak tenang karena suaminya yang berulang kali melupakan janji setia, pertunangannya yang gagal di masa lalu karena calon mertua yang terlalu banyak menuntut dan kini Sofi sahabatnya, dengan setumpuk derita dalam pernikahan. Semua terasa benar bagi Kania untuk hidup melajang selamanya. Ia tak perlu bertanggung jawab pada hal lain, kecuali tentang dirinya sendiri kepada Tuhan yang selalu mencintainya.
Bondowoso, 4 Juni 2022
Komentar
Posting Komentar