Cinta yang Tak Pernah Usai (Bagian 1)
Wulan mengendarai Wuling dengan kasar. Jantungnya masih terasa berdentam keras, tulang rahangnya berdenyut, jari tangannya mencengkeram kemudi dengan erat.
Lima belas menit yang lalu, ia melontarkan kata kasar setelah melihat Erick, kekasihnya menggenggam mesra tangan Dinda sahabat Wulan sejak SMA.
"Silakan lanjutkan kegilaan kalian!" Wulan masih berdiri di sisi meja bundar tepat di hadapan Erick dan Dinda yang juga berdiri kaget setelah caci maki yang Wulan ucapkan dengan lantang hingga menarik perhatian semua orang di cafe, "aku sudah puas dengan Erick. Kamu hanya mengais bekasku. Apa kamu tidak jijik?"
Sorot mata Wulan tajam menatap Dinda. Gadis berambut ombre kecoklatan itu seolah mengintimidasi lawan bicaranya hingga tenggorokan Dinda tercekat, tak ada kosakata apapun yang terucap dari bibirnya, bahkan sekedar kata maaf.
Erick masih mengelap kemeja putihnya yang penuh noda cappucino setelah secangkir minuman hangat itu Wulan siram dengan asal ke dada bidangnya. Ia lalu menginterupsi. "Kamu tidak bisa menyalahkan Dinda begitu saja."
"Apa kamu merasa bahwa aku hanya menyalahkan perempuan yang pura-pura merana ini? Tidak!" Wulan menggerak-gerakkan telunjuk jari kirinya di depan mata Erick, "aku juga menyalahkanmu. Aku hanya tidak menyangka, setiap aku berganti shift dengan Dinda untuk menjaga ayahnya yang sedang terbaring di rumah sakit, kalian berdua malah bermesraan di sini!"
Isak tangis Dinda pecah. Ia lalu pergi berlari meninggalkan dua orang yang dulu hatinya dipenuhi romansa.
"Sadarlah, Wulan! Tanyakan pada otakmu kenapa aku meninggalkanmu?" Erick maju selangkah mendekati Wulan yang masih punya ratusan kata kasar di benaknya, "karena kamu tak cukup seksi untuk aku banggakan di depan teman-temanku." Mata Erick memandang rendah Wulan dari ujung kepala hingga ujung kakinya.
Wulan tentu saja terkejut dan tersinggung dengan pernyataan Erick. Ia tak menyangka itulah alasan sebenarnya sedangkan selama ini Erick selalu tak bermasalah dengan bobot tubuh Wulan yang tak ideal. Belum lagi Erick sering berkata gemas pada Wulan yang memiliki darah Jerman dari ibunya.
Namun tanpa Erick duga, Wulan tertawa keras hingga mendongakkan kepalanya ke belakang. Ia lalu mendekat ke wajah Erick yang sangat diidolakan banyak wanita di kantornya.
"Kamu yakin itu alasannya, hah?" Wulan menyeringai, "bukan karena kamu tidak bisa menyeretku ke ranjangmu seperti yang biasa kamu lakukan pada kekasih-kekasihmu dulu?" Wulan kembali tertawa keras.
Erick menatapnya tak suka. Ia lalu celingukan mencari Dinda yang tadi berlari menjauh. Bisa dipastikan gadis berambut hitam sepekat malam itu sedang menangis tersedu-sedu di suatu tempat.
"Kamu tahu? Aku bahagiaaa...," Wulan merentangkan kedua tangannya, "aku bisa bebas darimu yang sering memintaku membayar tagihan setiap kita makan bersama. Dan satu lagi," Wulan kembali mencondongkan wajahnya ke arah Erick lalu berbisik, "milikku yang berharga mampu aku jaga dari laki-laki mesum seperti kamu!"
Wulan mengibaskan rambutnya yang bergelombang lalu pergi meninggalkan Erick yang belum sempat membalas kata-kata Wulan yang menusuk. Laki-laki bertubuh atletis itu hanya mampu mencengkeram sandaran kursi sambil memperhatikan Wulan yang semakin menjauh.
Wulan berjalan menuju sebuah rumah sakit yang hanya berjarak lima puluh meter dari cafe. Ia harus mengambil tas kerja yang ia tinggalkan di sana.
Wulan membuka pintu kamar nomor lima di paviliun Anggrek perlahan. Ia tidak ingin suara engsel pintu membangunkan laki-laki berusia enam puluh empat tahun yang tadi ia tinggalkan sebentar untuk membeli cappucino di cafe. Ia berjalan mengendap, mengambil tas di atas nakas dan tak mengacuhkan Dinda yang duduk di kursi samping ayahnya.
"Kau tak perlu lagi menjaga ayahku," suara Dinda memecah kesunyian. Ia berbicara dengan terus memandang ayahnya tanpa mau menoleh sedikitpun ke arah Wulan.
Wulan menghentikan langkahnya lalu berbalik mendekati Dinda.
Setengah berbisik, Wulan berkata, "Dengar! Aku membantumu menjaga paman bukan karena aku sahabatmu. Aku melakukannya karena aku menyayanginya. Dia adalah sahabat mendiang papaku yang setia. Tidak seperti seseorang yang aku kira sahabat sejati." Wulan memberi penekanan pada kalimat terakhirnya.
Gadis bermata biru safir itu pergi meninggalkan rumah sakit yang selama seminggu ini rutin ia kunjungi sepulang bekerja. Waktu tempuh setengah jam dari kantor ke rumah sakit tak membuatnya bersungut-sungut untuk bergantian menjaga Bagyo.
Sepekan sebelumnya, tiba-tiba saja Bagyo ambruk karena gula darah di dalam tubuhnya merosot drastis. Ia dilarikan ke rumah sakit. Wulan bersedih saat Dinda menelepon untuk mengabarinya. Sama seperti seorang anak perempuan yang kebingungan saat ayahnya sakit, Wulan panik dan segera meninggalkan kantor menuju rumah sakit. Meski tak memiliki hubungan darah dengan Bagyo, laki-laki itu begitu menyayangi Wulan seperti anak kandungnya sendiri. Ia tak pernah lupa dengan hari ulang tahun Wulan yang telah yatim piatu sejak mama papanya meninggal dalam kecelakaan saat dia masih SMA. Bagyo selalu menyempatkan diri untuk membeli kado untuk Wulan dan membuatnya tak merasa sendiri tanpa orang tua di hari ulang tahunnya.
Sesampai di rumah, Wulan mengguyur tubuhnya di bawah shower. Ia tak melepaskan pakaian kerjanya, membiarkannya basah hingga melekat di lekuk tubuhnya yang tadi telah dihina Erick.
Wulan menikmati derasnya air yang telah mengucur lebih dari lima menit. Ia belum merasa kedinginan meski hatinya sudah mulai sejuk. Berdiam diri di bawah guyuran air benar-benar saluran emosi yang ampuh untuk Wulan. Setiap kali ia sedih, kecewa ataupun marah, ia selalu melakukan hal ini. Otaknya bisa kembali bersih, tak ada lagi kata-kata kasar yang muncul. Hatinya kembali tenang, lalu mensyukuri semua hal. Ia percaya Allah telah menyiapkan skenario terbaik untuknya meski di awal, ia merasa kaget dengan alurnya.
Setelah mandi, Wulan menuju dapur. Ia baru sadar jam dinding telah menunjukkan pukul delapan malam. Ia belum makan malam.
Wulan membuka lemari es, memeriksa stok bahan makanan di dalamnya. Ada beberapa jenis sayur dan daging ayam yang baru ia beli kemarin bersama Erick. Ah Erick, nama itu kembali hadir di otaknya. Ternyata menghapus nama seseorang tak semudah menghapus nama yang tertulis di pasir pantai.
Wulan memasak tjap cai lalu menyajikannya di meja makan. Ia harus makan banyak, tak peduli dengan bobot tubuh yang membuat hatinya sensitif sore tadi. Ia harus sehat dan kembali berenergi untuk membersihkan rumah dari semua hal yang berkaitan dengan Erick setelah makan malam nanti.
Benar saja, tak perlu menunggu lama setelah makan malam, Wulan mengumpulkan foto-foto Erick dan semua barang yang pernah laki-laki itu berikan padanya. Ia membakarnya di tempat sampah luar pagar rumah sedangkan jaket, topi dan dompet pemberian Erick akan ia kembalikan besok melalui kurir ke alamat rumah Erick.
"Woah, kamu rajin membersihkan sampah meski sudah larut malam," kata seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul di dekat Wulan, "ini sudah jam sebelas, apa kamu besok tidak bekerja?"
Wulan hanya menoleh sebentar ke sumber suara, lalu kembali fokus dengan sampah yang ia bakar.
"Atau mungkin hatimu sedang tidak tenang dan memilih mencari kegiatan untuk mengundang kantuk?" laki-laki itu tidak menyerah untuk mengakrabkan diri dengan Wulan.
"Besok hari Kamis. Tentu saja aku bekerja, mungkin kamu lupa itu," jawab Wulan ketus.
"Ohooo... apa kamu masih marah padaku, Nona Cantik? Kamu bahkan tidak membalas pesanku padahal biasanya jari tanganmu secepat kilat menjawabku."
"Aku sibuk," Wulan melempar ranting kayu ke dalam bak sampah berbentuk persegi yang terbuat dari semen dan batu bata, "bukankah kamu juga cukup sibuk berkencan? Tak perlu menyempatkan diri untuk berbicara denganku."
Wulan lalu pergi, mengunci pintu pagar besi rumahnya. Ia juga membanting pintu rumah saat menutupnya lalu melempar tubuh bulatnya ke sofa di depan TV.
Bintang, tetangga sekaligus atasan Wulan di kantor itu berdiri terpaku di luar pagar. Ia hanya harus mendekati Wulan lagi besok agar mau berbicara dengannya.
Bersambung...
Keren ceritanya mbak
BalasHapusKeren banget ...
BalasHapusAsyik, suka banget sama kisahnya... Lanjut berkarya tanpa henti
BalasHapus