Memilih Bahagia (Bagian 17)
Erma kembali memeriksa pesan yang ia kirim kepada Uki. Sudah lebih dari dua puluh empat jam, kalimat singkat itu tetap saja bercentang satu. Entah karena ponsel Uki mati, paket datanya habis atau mungkin saja di desa tempat Uki tinggal terkendala sinyal, Erma tidak tahu pasti. Tapi Erma tak cukup berani membayangkan bahwa Uki sedang menghindarinya dengan mengganti nomor baru.
"Iiih... Uki! Kalau satu jam lagi HP mu tetap gak aktif, aku yang akan matikan HP!" seru Erma sambil memasukkan gawainya ke tas dengan kasar.
Ketakutan yang sebenarnya sedang Erma tepis itu bisa saja terjadi. Kemarin, Erma berkunjung ke desa Uki melaksanakan KKN. Jaraknya cukup jauh, hampir satu setengah jam perjalanan dari tempat Erma.
Sebuah balai desa yang terletak di kaki bukit terlihat sejuk dan asri. Cat tembok yang didominasi warna merah muda membuat bangunan itu tampak mencolok di antara hijau perbukitan sekitar. Terdapat pohon mangga, kelengkeng dan sawo kecik di halaman. Di sisi kanan, bunga kenikir berwarna jingga dan kuning terhampar berjajar dari pagar hingga ke undakan kantor desa. Sedangkan di sisi kiri tumbuh subur beraneka jenis tanaman herbal seperti kemangi, sirih, serai, kumis kucing, jahe, lengkuas dan beberapa lidah buaya yang begitu gemuk.
Beberapa ruangan berbaris di samping kanan kantor desa. Salah satu ruangan paling ujung digunakan para mahasiswa KKN untuk bermalam, sedangkan para mahasiswi tinggal di salah satu rumah penduduk yang hanya berjarak lima puluh meter dari kantor desa.
Erma memarkir motor di halaman balai desa. Tampak Uki sedang mengepel teras ruangan tempat ia tinggal. Ia tak menyadari kedatangan Erma di hari minggu pagi selepas hujan.
"Uki!" Erma yang berjalan mengendap, mengagetkan Uki.
"Eh, Erma? Sama siapa?" Uki celingukan melihat sekitar.
"Sendiri dong. Aku lagi gak ada kegiatan pagi ini jadi keluar sebentar."
"Ini bukan keluar sebentar, jauh loh dari tempat KKNmu. Masa iya kamu duduk lima menit terus pulang?" Uki menaruh alat pel, "yuk sini duduk di balai."
Mereka berdua menuju bangunan yang terbuka itu. Uki membersihkan kursi kayu yang terkena cipratan air. Deras hujan dan angin yang cukup kencang membuat genangan air di beberapa sisi balai desa dan tentu saja kursi di sana tak luput dari percikannya. Ia lalu mempersilakan Erma duduk.
"Kamu gak kena hujan? Jam berapa tadi berangkat?"
"Aku berangkat sekitar jam lima. Santai gitu naik motornya, namanya juga jalan-jalan. Iya kan?" Erma tersenyum kecil, "alhamdulillah, di perjalanan gak kena hujan. Aku malah kaget di sini sudah pada basah. Deres banget ya hujannya?"
"Iya, deres. Angin juga lumayan kencang, makanya banyak daun yang jatuh," Uki melihat ke arah halaman yang dipenuhi daun mangga dan sawo kecik, "tunggu ya, aku buatkan teh anget."
Uki menuju dapur yang terletak di sebelah kamarnya. Ia menyalakan kompor dan memasak air lalu menyiapkan dua gelas teh.
Sebelum air mendidih, Uki menuju kamar dan mengambil jaket.
"Nih pake, Ma. Udaranya dingin banget," Uki menyelimuti Erma dengan jaket tebalnya.
"Loh, aku kan udah pake jaket," Erma menoleh ke Uki yang masih berdiri di sampingnya sambil memegang ujung kerah jaketnya.
"Jaketmu kurang tebal. Pake aja, biar gak masuk angin."
"Ih, ini kan kamu dulu yang belikan! Salah siapa beli jaket gak tebal banget."
"Aku sengaja, biar kalau naik motor dipeluk kamu," kata Uki berlalu sambil tersenyum.
Pipi Erma merona. Ia ikut tersenyum gemas mendengar kata-kata Uki.
Saat Uki berjalan dari arah dapur membawa teh, tiba-tiba saja seorang gadis datang membawa dua gelas minuman hangat. Asap mengepul dari gelas yang ia bawa.
"Uki, aku buat cappucino loh," kata gadis itu berbicara dengan keras sambil berjalan ke arah Uki. Ia tak menyadari ada seorang tamu di balai sebelum akhirnya menoleh, "eh ada tamu."
"Oh ya, kenalin. Ini Erma. Erma, ini Poppy teman KKN ku."
Dua gadis itu berjabat tangan setelah Poppy meletakkan gelas yang ia bawa di meja panjang di hadapan mereka. Poppy menggeret kursi dan duduk di sebelah Uki sedangkan Erma duduk berhadapan dengan mereka berdua.
Erma tersenyum ramah, di sisi lain Poppy tersenyum penuh arti. Ia menyadari gadis di hadapannya inilah yang dulu berbicara di telepon dengan nada cemburu. Jaket Uki juga sedang ia pakai, tanda bahwa mereka cukup dekat di samping kenekatan Erma yang datang sangat pagi di cuaca yang dingin.
"Kamu kehujanan ya tadi pas ke sini? Tempat KKN mu jauh banget kan dari sini," Poppy bertanya kepada Erma setelah mendengar nama desa tempat Erma KKN dari Uki.
"Nggak kok, di tempatku gak hujan tadi. Eh di sini sudah basah," jawab Erma lalu menyesap teh hangat.
"Kamu berani banget ya naik motor ke sini sendiri. Jauh loh. Padahal kamu gak pernah ke sini sebelumnya," Poppy berbicara sambil memandang kesal pada jaket yang Erma pakai, "gak takut nyasar?"
"Kan ada google map," jawab Erma dengan senyum yang masih melekat di bibirnya.
"Dia pemberani. Ngilang sendiri di Surabaya meski gak tau jalan, santai kok." Uki menyindir Erma lalu tertawa keras dan meneguk teh.
"Hmmm... Mulai deh," Erma mencebikkan bibirnya.
"Aku sebenarnya juga gak penakut. Tapi rasanya gak enak aja kalau jalan sendiri. Makanya tiap ada kegiatan di desa, aku mesti boncengan sama Uki," Poppy tersenyum melihat ke arah Uki, "apalagi pergi ke desa lain, ogah ah aku sendiri. Koordinator desa kayak dia ini harus dimanfaatkan." Poppy menyikut lengan Uki.
Erma tersenyum kaku. Ia lalu melirik Uki yang tertawa dengan candaan Poppy.
" Apa mungkin mereka sangat dekat? Ah itu hanya perasaanku saja. Mereka kan teman satu KKN, " kata Erma dalam hati.
"Loh kok cappucinonya gak diminum? Nanti dingin loh. Aku bela-belain bawa ke sini pelan, takut tumpah di jalan." Poppy melirik cappucino yang belum Uki sentuh. Sedangkan cappucino Poppy sudah tersisa satu tegukan.
"Sejak kapan kamu suka minum cappucino?" Erma heran.
"Emang Uki gak suka? Aku buatin hampir tiap hari loh untuk dia." Poppy pamer.
"Hah? Emang seleramu udah berubah, Ki?" Erma serius bertanya pada Uki.
"Cappucinonya aku minum sebentar lagi. Aku masih minum teh," Uki kembali menyesap tehnya sampai habis, "aku sebenarnya gak doyan cappucino. Tapi kan kasian kamu sudah buatin. Nanti kamu pake alasan gas mahal, gak hemat, seperti biasa." Uki terbahak mengingat kebiasaan Poppy yang sering mengomel saat teman-teman KKNnya tidak bisa berhemat menggunakan gas sedangkan pangkalan gas elpiji hampir satu kilometer jauhnya dari tempat mereka.
Empat puluh lima menit telah berlalu. Erma memutuskan untuk pamit pulang. Ia merasa kurang nyaman dengan kehadiran Poppy yang terlihat manja. Jelas sekali Poppy tak ingin pergi meski Uki sudah memberi kode dengan berkata bahwa Anis, teman KKN mereka sedang membutuhkan tenaga Poppy di dapur.
Erma berdiri dari kursi sebelum akhirnya ia terkejut. Seekor ular hitam bergaris putih berukuran sedang melingkar tak jauh dari tempat Erma berdiri. Hewan itu terjatuh dari pohon mangga setelah hujan dan angin kencang di pagi hari. Sontak Erma berteriak, mundur tergesa dan tanpa sengaja menabrak Poppy yang sedang berdiri di belakangnya. Poppy jatuh dari lantai balai desa yang tingginya lebih dari satu meter ke tanah (fondasi balai desa biasanya tinggi hingga bisa lebih dari satu meter).
"Aaa...! Tanganku sakit! Kamu kok dorong aku, Ma?!" Poppy menatap penuh amarah pada Erma.
"Ya Allah!" Erma panik dan langsung melompat ke tanah, "kamu gapapa, Pop? Duh maafin aku." Erma menyentuh tangan Poppy yang sedikit tergores.
"Aw... Jangan sentuh!" Poppy menepis tangan Erma dengan kasar. Poppy lalu menangis tersedu.
Uki yang bingung melihat Poppy jatuh dan ular yang terlihat menakutkan, berteriak meminta pertolongan teman-temannya yang masih ada di kamar. Tiga orang mahasiswa keluar. Ada yang memegang sapu, alat pel dari besi dan batang kayu besar yang jatuh saat hujan pagi tadi. Semua bekerjasama untuk mengusir ular meski pada akhirnya dengan terpaksa mereka membunuhnya karena dirasa cukup membahayakan.
Setelah ular dipastikan mati, Uki dan tiga temannya menghampiri Poppy yang masih menangis.
"Oh, kamu keseleo ini, Pop," kata Yoga setelah menyentuh tangan Poppy, "ayo bawa ke puskesmas."
"Jangan, dibawa ke tukang pijat spesialis patah tulang saja," seorang laki-laki paruh baya yang akan berangkat ke sawah mampir setelah melihat keributan, "ayo saya temani ke rumahnya."
Laki-laki paruh baya itu menjadi penunjuk jalan dengan menaiki motor di depan. Uki membonceng Poppy ke rumah tukang pijat yang berjarak tiga setengah kilometer. Di belakangnya, ada Erma yang memeluk Poppy agar tak terjatuh. Satu motor bertiga memang dilarang, tapi faktanya ini jauh lebih aman dalam keadaan darurat karena Erma khawatir Poppy jatuh saat dibonceng Uki. Tangan Poppy tak cukup kuat untuk berpegangan.
Setelah mendapat perawatan, pergelangan tangan Poppy diperban. Erma masih saja di sana, menemani Poppy dan menatapnya penuh penyesalan.
"Aku minta maaf sungguh, Pop. Aku gak sengaja karena panik." Dengan wajah sedih, Erma berdiri di samping Poppy yang masih duduk di tempat tidur.
Poppy tak menjawab. Wajahnya masih saja meringis dan tak mau melihat ke arah Erma yang entah sudah berapa kali meminta maaf padanya.
"Pop, apa kamu sudah kuat untuk naik motor lagi dan balik ke desa?" tanya Uki yang baru saja menyelesaikan pembayaran.
"Ayo deh. Aku sumpek di sini!" jawab Poppy dengan nada sedikit manja lalu beranjak meninggalkan Erma.
Mereka kembali berboncengan. Tangan kiri Poppy memeluk Uki dengan erat sedangkan tangan kanan yang diperban ia biarkan di atas paha. Erma menyadari itu. Ia merasa tak nyaman melihatnya meski pada akhirnya ia memaklumi keadaan Poppy yang sedang sakit. Uki pun hanya diam saja meski terlihat jelas dari bahasa tubuhnya yang tak nyaman dipeluk Poppy.
Tak ada pembicaraan selama perjalanan. Tiga orang itu memendam emosi yang berbeda.
Uki mengantar Poppy ke rumah kosnya di desa. Lima orang mahasiswi menyambut Poppy dengan wajah gelisah.
"Kamu gapapa, Pop? Kok sampe keseleo sih? Aduuuhh...sakit ini pasti," Yati memandang sedih pergelangan tangan Poppy.
"Gimana sih ceritanya?" Wike bertanya sambil memapah Poppy.
"Ya gitu deh. Aku didorong. Aw!" Kembali Poppy memasang wajah manja di depan Uki.
"Udah istirahat aja, Pop. Aku balik dulu ya," Uki berpamitan.
"Aku sungguh minta maaf ya, Poppy. Aku beneran gak sengaja dorong kamu." Erma belum menyerah untuk meminta maaf sedangkan Poppy tetap tak merespon.
Uki dan Erma berboncengan kembali ke balai desa. Wajah Erma masih menahan kesedihan.
"Aku gak sengaja beneran loh, Ki. Tapi kayaknya Poppy gak percaya," kata Erma sambil memainkan gantungan kunci motornya.
"Iya, aku tau. Udah deh, jangan dipikirin."
Erma pun pulang dengan perasaan bersalah yang tak mampu ia lerai. Ia tak menyangka akan melukai Poppy di pertemuan pertama mereka. Apalagi berkali-kali gadis itu berkata bahwa Erma mendorongnya dengan sengaja.
Sesampainya di desa pesisir pantai tempat Erma melaksanakan KKN, ia mengirim pesan pada Uki bahwa ia sudah sampai dengan selamat.
Pesan singkat itu tercentang satu hingga keesokan harinya. Terbesit tanya dalam hati Erma, apa mungkin Uki marah padanya karena perbuatannya pada Poppy. Erma kesal. Ia harus menemui Uki lagi.
Bondowoso, 3 Juni 2022
Yaah begitulah taqdir cinta
BalasHapus