Memilih Bahagia (Bagian 18)
Erma tak habis pikir. Sudah tiga hari ia tak dapat menghubungi Uki. Pasti ada hal penting yang ia lewatkan. Tapi bukan berarti Erma tak berusaha. Ia sempat mendatangi kontrakan Uki. Gadis yang kini memotong pendek rambutnya empat sentimeter di bawah telinga itu berpikir mungkin saja Uki sempat kembali ke kosan sepulang kuliah. Nyatanya, teman-temannya berkata bahwa Uki sudah seminggu ini tak kembali ke kosan. Ia langsung menuju desa KKN sepulang kuliah.
Jam
menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh menit. Erma belum mengantuk tapi
ia enggan menyentuh tugas kuliah yang harus ia kumpulkan lusa. Erma memilih
duduk bersantai di teras rumah bersama teman-teman KKNnya menikmati purnama
hingga seorang laki-laki datang bertamu. Erma terperanjat bersamaan dengan jawaban
salam yang ia ucapkan.
“Loh,
bang Sodiq ada apa malam-malam ke sini? Sama siapa?” Erma berdiri sambil
celingukan mencari orang lain yang mungkin datang bersama orang kepercayaan
ayahnya itu.
“Anu,
Dek. Jangan kaget ya. Dek Erma tenang dulu.” Tetangga yang begitu akrab dengan
keluarga Erma itu sangat berhati-hati dalam berbicara.
“Ada
apa sih, Bang?” Erma mengerutkan kening. Ia sedikit kesal dengan tingkah Sodiq
yang tak seperti biasanya.
“Dek,
pak lek kecelakaan. Dek Erma pulang dulu ya,” Sodiq menyampaikan pesan dengan
degup jantung yang begitu cepat. Ia harus berbicara setenang mungkin.
“Hah?
Bapak?” mata Erma terbelalak mendengar kata-kata Sodiq. Ia lalu
mengguncang-guncang lengan Sodiq sambil memandang netra Sodiq lekat,” gimana
keadaan bapak sekarang? Bapak ada di rumah sakit mana?”
“Tenang,
Dek. Pak lek ada di rumah. Beliau cuma meminta saya untuk menjemput dek Erma.”
Erma
bernafas lega. Jika sang ayah ada di rumah, itu berarti keadaannya tidak buruk.
Erma tahu pasti sifat ibunya yang terlalu khawatir setiap Erma atau ayahnya
sakit. Sang ibu selalu memaksa mereka untuk segera memeriksakan diri ke dokter.
Bahkan dulu saat SMA, Erma pernah mengalami diare yang tak begitu parah, sang
ibu sudah mendesaknya untuk dirawat di rumah sakit agar tidak dehidrasi.
Setelah
menyiapkan barang secukupnya untuk dibawa pulang, Erma berpamitan kepada
teman-temannya dan ibu pemilik rumah. Ia bergegas pulang dengan Sodiq
mengendarai mobil menembus malam yang semakin pekat. Tak ada pembicaraan selama
perjalanan. Erma hanya cukup menerka seperti apa keadaan ayahnya sedangkan
Sodiq berdoa dalam diamnya. Ia berharap gadis di sampingnya tak akan bertanya
apapun karena ia yakin tak akan sanggup menutupi hal yang tak lama lagi akan
Erma hadapi. Hati Sodiq tetap belum siap tapi ia memang harus menjemput Erma
dengan tergesa.
Setelah
menempuh perjalanan selama dua jam, Erma dan Sodiq sampai di rumah. Banyaknya
orang yang berkerumun di rumah membuat Erma kembali khawatir dengan keadaan
sang ayah.
“Loh,
kok banyak banget orang yang jenguk, Bang?” Erma menoleh ke arah Sodiq sambil
melepas seat belt. Namun tak ada
jawaban yang terucap dari laki-laki berusia empat puluh tahun itu.
Erma
turun dari mobil dengan tergesa. Orang-orang yang berkumpul lalu memberi akses
jalan untuk Erma yang setengah berlari memasuki rumah. Hampir semua orang yang
ada di sana memandang ke arah Erma. Tak jarang dari mereka yang saling berbisik
mengatakan iba.
“Bapak?”
tubuh Erma limbung seketika saat melihat seseorang ditidurkan di ruang keluarga
dengan kain batik panjang menutupi seluruh tubuhnya, “bapaaaaak!” Erma histeris
lalu duduk bersimpuh di samping sang ayah yang telah terbujur kaku. Air matanya
tumpah. Isak tangis yang tak mampu lagi ia tahan semakin menambah kesedihan
yang menebar ke seluruh sisi ruangan.
Sang
ayah kini telah tiada. Sosok laki-laki yang selalu menuruti keinginan Erma itu
kini telah berpulang kepada Pemiliknya. Meski hubungan mereka sempat renggang
saat untuk pertama kalinya sang ayah memaksakan kehendak kepada Erma dengan
menjodohkannya, nyatanya itu tak bertahan lama. Sang ayah kembali mendengarkan
isi hati putrinya walaupun laki-laki itu belum sempat menemui keluarga Hendra
untuk memutuskan hubungan pertunangan.
“Bapak
kok pergi?” Erma masih saja bersujud di samping sang ayah dengan air mata yang
terus berderai, “bapak tadi habis magrib ‘kan masih telepon Erma, tanya Erma
sudah ngaji apa belum. Terus sekarang kalau Bapak pergi, siapa lagi yang mau
ingetin Erma?”
Sang
ibu memeluk anak semata wayangnya itu dengan tubuh yang masih lemah. Tak ada
suara yang terucap dari bibirnya yang sedikit bergetar dan punggung yang
berguncang, hanya air mata yang tak henti menetes dari netranya yang sudah
sangat sembab.
Menjelang
pukul satu dini hari, Erma dan sang ibu menaburkan bunga-bunga di atas pusara.
Tetap tak ada kata selain air mata yang tak sanggup dibendung.
Ikhlas,
adalah kata yang terucap dalam hati. Tak ada obat yang senyaman kata ikhlas.
Dengannya, manusia akan bertahan dalam kondisi apapun. Dengan menyadarinya,
manusia akan semakin tunduk pada ketentuan Pemiliknya. Bukankah semua makhluk
adalah milik Tuhannya? Maka kesedihan karena perpisahan hanyalah awal dari kata
rindu untuk pertemuan kekal selanjutnya.
Innalillahi wa innailaihi rojiunš
BalasHapusterima kasih banyak sudah bersedia membaca
HapusSangat mengharukan
BalasHapusterima kasih banyak
Hapus