Memilih Bahagia (Bagian 19)

 

Sinar matahari menelusup dari sela-sela tirai jendela yang tertiup angin sore. Erma sudah bangun dari tidur siangnya yang entah sudah berapa lama. Tubuhnya terasa sangat lelah.

 

Semalam setelah pemakaman, Erma tak tidur, begitu juga ibu dan bibinya. Mereka bercengkrama di ruang keluarga setelah semua orang pulang. Tiga perempuan itu terkenang semua kisah tentang sang kepala keluarga. Sang bibi yang sudah delapan tahun tinggal bersama keluarga Erma masih tak percaya dengan kepergian sang kakak yang tiba-tiba. Baginya, Wahyu bukan hanya sosok kakak yang peduli dan sayang pada adiknya tapi dia juga bagaikan sosok ayah yang begitu perhatian.

 

Bibi Erma bercerai delapan tahun lalu, kemudian orang tua Erma mengajaknya untuk tinggal bersama mereka agar ia tak kesepian. Belum hadirnya keturunan dalam pernikahan, membuat suami sang bibi berselingkuh dan menikahi wanita lain yang telah mengandung anaknya. Perceraian tak dapat dihindarkan. Bibi Erma memilih berpisah meski awalnya sang suami tak ingin adanya perpisahan. Laki-laki itu ingin berpoligami.

 

Bukan berarti bibi Erma menolak poligami yang sebenarnya ada hukumnya dalam agama yang ia anut tapi ini tentang kepercayaan. Pengkhianatan yang dilakukan sang suami bagi bibi Erma dirasa sangat menyakitkan. Seandainya ia mengakui sejak awal jika ingin menikah lagi demi memiliki keturunan, maka sang bibi dengan ikhlas hati akan membuka jalan.

 

Semua kisah semalam itu membuat Erma sadar bahwa jodoh dan maut tak ada yang tahu. Wahyu yang dikenal sehat dengan rutin berjalan kaki setiap hari sejauh dua kilometer dan bekerja di sawah ternyata menghembuskan nafas terakhirnya di jalan raya dalam perjalanan pulang dari pengajian. Sungguh, ketentuan Allah pastilah yang terbaik.

 

Erma masih tak ingin beranjak dari tempat tidurnya, menutup mata lagi sambil mengenang sang ayah serasa tak ada habisnya hingga suara ketukan pintu mengagetkannya.

 

Sang bibi menyembul dari balik pintu. “Erma masih tidur?” Nunung bertanya lirih. Ia lalu melangkah masuk setelah melihat sang keponakan duduk di kasurnya.

 

“Ada apa, Te?” Erma membersihkan kotoran mata dan menyisir rambut dengan jari-jarinya.

 

“Barusan ibumu bilang kalau teman kampusmu datang.”

 

Erma mengernyitkan dahi. Ia berpikir sejenak, siapa yang mungkin berkunjung karena teman-teman kampus, KKN dan kosan sudah datang pagi tadi.

 

“Berapa orang, Te?” tanya Erma sebelum masuk ke dalam kamar mandi di kamarnya.

 

“Gak tau deh. Tante belum keluar. Ibumu yang mempersilakan masuk barusan.”

 

Tak lama, Erma menemui tamu yang datang. Matanya membulat tak percaya. Orang yang tak pernah dibayangkan datang ke rumahnya.

 

“Uki?”

 

Uki tersenyum. Ia datang seorang diri. Sungguh sebuah perjuangan untuk sampai di rumah Erma. Bukan karena Uki berusaha mengingat arah jalan rumah Erma yang berada di pelosok desa sedangkan ia hanya pernah berkunjung sekali. Bukan, tentu bukan itu masalahnya. Ini tentang penerimaan sang tunangan. Uki khawatir Hendra tak menyukai kehadirannya. Uki sadar, Hendra pasti curiga jika Uki datang seorang diri dan memperkenalkan diri nanti tapi Uki kembali meluruskan niat di dalam hati. Ia hanya ingin takziah, merasa turut berduka atas kehilangan yang Erma alami. Selebihnya biarlah dipikirkan nanti.

 

“Aku turut berduka cita.” Uki menyampaikan dengan lirih sambil menatap Erma yang matanya masih terlihat  sembab.

 

“Kok kamu tahu? Siapa yang cerita?” Erma sungguh penasaran mengingat ponsel Uki tak bisa dihubungi beberapa hari ini. Jadi sangatlah tidak mungkin ada yang menelepon Uki.

 

“Tadi waktu makan siang habis kuliah, aku ketemu Galuh teman sekelasmu. Dia yang cerita.”

 

Erma menganggukkan kepalanya beberapa kali sambil menunduk melihat karpet yang ia duduki.

 

“Apa mungkin kamu sempat menghubungiku?” tanya Uki sambil membungkukkan badannya melihat Erma yang menunduk.

 

“Nggak kok. Aku cuma telepon Desti dan salah satu teman KKN biar mereka gak bingung.” Erma tersenyum menutupi kebohongannya.

 

Uki hanya tak tahu, betapa bingung Erma karena tak bisa menghubunginya. Belum lagi fitnah Poppy yang membuat Erma semakin khawatir Uki percaya dengan kebohongan gadis yang baru dikenalnya itu.  

 

“Oh gitu,” sekilas raut wajah Uki terlihat kecewa karena Erma tak mencarinya, “HP ku hilang, mungkin jatuh pas kita boncengan bertiga waktu itu. Aku taruh di saku jaket. Setelah kamu pulang, aku baru sadar HP ku sudah gak ada lagi.”

 

“Oh, maaf. Aku waktu itu pasti juga gak sadar ada yang jatuh pas kita naik motor.” Di dalam hati, Erma merasa bersalah telah berpikir negatif tentang Uki.

 

“Gapapa kok. Sudah aku ikhlasin setelah mondar-mandir sejam sama teman KKN nyari di jalan yang kita lewati.”

 

“Jadi kamu gak pegang handphone dong sekarang?” Erma bertanya untuk memastikan.

 

“Ya begitulah.” Uki tersenyum sambil mengedikkan bahu.

 

Erma masih menunduk sambil memilin-milin ujung karpet yang ia duduki saat ia memulai pembicaraan tentang sang ayah.

 

“Ki, mohon maafin bapakku ya,” Erma mengangkat wajahnya dan memberanikan diri menatap Uki, “terakhir ketemu, mungkin sikap bapak menyakitimu. Bapak kurang ramah waktu itu.”

 

Erma memaklumi jika Uki tersinggung dengan sikap sang ayah yang terlihat tak suka dengan kehadiran Uki di kosan Erma saat itu. Tapi meminta maaf untuk orang yang telah tiada tetap Erma lakukan. Ia berharap jika Uki memaafkan, maka berkuranglah beban sang ayah.

 

“Oh itu. Aku paham dengan situasi yang kurang nyaman waktu itu. Wajar menurutku karena bapak hanya khawatir dengan anak gadisnya. Gak ada dendam yang aku simpan,” Uki merespons kekhawatiran Erma dengan santai. 

 

“Terima kasih,” kata Erma tulus.

 

Bibi Erma datang membawa nampan berisi teh dan kue. Awalnya ia menunduk hingga akhirnya saat ia mempersilakan tamu untuk menikmati hidangan, ia kaget dengan apa yang dilihatnya.

 

Uki, keponakan mantan suaminya sedang bertamu ke tempat tinggalnya. Satu windu tidak bertemu, tak membuat Nunung lupa dengan wajah keponakan yang sejak kecil sering menginap di rumahnya.

 

Di lain pihak, Uki juga sama terkejutnya. Bagaimana mungkin dunia sesempit ini hingga Nunung yang delapan tahun lalu pergi dari kota tempat tinggal Uki ternyata adalah bibi Erma? Oh ini suatu kebetulan yang menguntungkan atau malah mungkin menyakitkan? Uki hanya menghembuskan nafas panjang dan tersenyum.

 

“Oh Uki, apa kabar, Nak?” tanya sang bibi sambil membalas ciuman tangan Uki dengan pelukan hangat, “jadi kamu teman Erma?”

 

Iya, teman. Tepatnya teman istimewa yang kini entah bagaimana menyebut hubungan ini.

 

Lagi-lagi Uki hanya tersenyum menanggapi pertanyaan sang bibi. Ia tak mungkin bercerita tentang kedekatannya dengan Erma. Tentu bukan hanya karena waktu yang tak tepat tapi juga karena hubungan Nunung dan paman Uki yang memiliki kisah pahit. Ia khawatir itu akan semakin menyedutkan posisi Erma di dalam keluarganya.

 

Setelah cukup lama berbincang, Nunung tak tahan juga untuk bertanya kabar sang mantan suami. Uki lalu bercerita bahwa sang paman kini telah memiliki tiga orang anak dari pernikahan keduanya. Nunung bahagia mendengarnya. Ia sungguh bahagia sekaligus lega, sang mantan suami tetap setia dengan istrinya dan memiliki kehidupan tentram dengan adanya banyak anak yang selama ini memang ia idamkan.

 

“Assalamu’alaikum,” seorang tamu menjeda percakapan mereka.

 

Ralat, bukan tamu tapi tunangan Erma yang kembali datang untuk membantu persiapan malam tahlilan.

 

“Eh mas Hendra. Mari masuk mas,” sapa Nunung dengan ramah, “pulang kerja lebih awal hari ini?”

 

Deg! Situasi yang Uki khawatirkan terjadi. Ia akhirnya bertemu Hendra. Ia tak mungkin berbohong dengan mengubah nama karena di sana ada Nunung sedangkan Uki ingat bahwa Erma dengan berani pernah bercerita kepada tunangannya tentang dirinya. Ah, ini sulit. Uki tak ingin Erma mengalami pertengkaran dengan sang tunangan apalagi ia masih sangat berduka dengan kepergian sang ayah.


Bersambung... 

 

Kota Tape, 18 Juni 2022

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga